SEJARAH LOKAL/ BARANURI (Bagian Kedua-Habis)

“Tubu Musu Ora Mata” Manungo’o, Kekuatan Heroisme Baranuri

KEPEDULIAN akan kisah heroisme seseorang bagi kalangan tertentu terasa sangat menyentuh nurani. Apalagi heroisme seorang itu muncul dan mencuat dari rasa kemanusiaan yang dalam akan suatu perlakuan non manusiawi.

Baranuri bukanlah pahlawan nasional seperti Sudirman. Gema pengorbanannya tidak terdengan di seantero Nusantara. Hanya sebatas daerah pemilik Danau Tri Warna Kelimutu. Namun Ende yang sebuah kabupaten dan pernah menjadi ibukota Daerah Flores mencatat sejumlah peristiwa sejarah.

Patung Baranuri di Ndao sebagai kenangan atas perjuangan Baranuri (Foto : FBC/Nando Watu)

Para tokoh “rambut uban” seperti Haji Hasan Baranuri, cucu Baranuri memang tidak mengikuti peristiwa yang dilakonkan Baranuri di atas pentas perjuangan keadilan dan kebenaran serta kesejahteraan masyarakat. Namun kisah sejarah dalam keluarga Baranuri masih terekam indah. Bagi Hasan Baranuri merupakan tokoh penegak keadilan dan kebenaran serta perjauangan Hak Asasi Manusia di Kabupaten Ende.

Diakuinya, perjuangan Baranuri tidak sehebat perjuangan pahlawan nasional yang ada. Namun yang diupayakan hampir pasti boleh mengantarnya duduk dalam daftar pahlawan di Republik ini yang sudah berjuang untuk orang kecil.

Pendapat Hasan ini diperjelas tokoh tua lainnya yakni Muhammad Abdullah Denni Sumby. Sumby berkeyakinan kuat bahwa semua warga Ende Khususnya di bagian selatan pasti tahu benar kisah perjuangan Baranuri. Hanya saja kronologis perjuangannya diwarnai dengan berbagai kisah yang berkembang dengan versi pribadi.

Cerita tentang perjuangan Baranuri diperkuat lagi dengan bukti peninggalan yang masih ada. Sebuah benteng yang menjadi tempat perlindungan Baranuri kini masih terdapat bekas-bekasnya di Manggo’o. Masih berdiri tegak tubu musu ora mata sebuah batu yang ditanam dan menjadi tempat persembahan kepada arwah leluhur.

Dikisahkan,  tubu musu ora mata ini menjadi kekuatan Baranuri selama berjuang menghadapi penjajah Belanda. Sebelum berperang melawan penjajah, Baranuri melakukan upacara adat di batu tersebut dan dengan cara adat mendatangkan kekuatan baru untuk mereka bawa ke tempat perang.

Selain benteng yang masih tersisa puing-puingnya ada sebuah meriam yang masih tersimpan di Reworeke, Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Selatan (dulu) yang kini menjadi Kecematan Ende Timur, sekitar enam kilometer arah timur Kota Ende. Meriam itu kini tersimpan di rumah bapak Muhammad Saleh Doni, cucu penembak meriam di jaman Baranuri.

Saleh Doni beberapa tahun silam pernah berkisah, meriam ini punya kekuatan tersendiri. “setiap malam saya selalu mengantar sesajen di depan meriam tersebut,” kata Saleh Doni mengingat pesan yang dituruntemurunkan dari mendiang kakeknya penembak dahulu. Diakuinya bila berada sendiri di dalam kamar tempat penyimpanan meriam itu, rasanya menakutkan. Mungkin karena meriam ini telah menelan ratusan bahkan ribuan manusia di jaman penjajahan tempo dulu.

Dia menuturkan pesan kakeknya agar ia tetap merawat meriam itu sebagaimana dia merawat kakeknya sendiri. Karena itu demikian saleh, setiap malam dia tidak pernah melupakan kewajibannya untuk selalu berada dekat meriam sambil mengantarkan sesajian dan membakar kemenyan. Hal ini bukan karena dia menghormati benda mati yang dimaksud, tetapi kehadiran meriam itu dirasakan sendiri sebagai kehadiran kakeknya.

Kisah dan perjuangan Baranuri masih cukup terekam kuat. Akhirnya Pemda Ende tahun 1986 membangun sebuah monumen Baranuri yang terletak di bagian barat Kota Ende. Tepatnya pertigaan Ende-Bajawa dan Ende-Nuabosi. Keperkasaan Baranuri kembali terlukis lewat patung yang dibangun Pemda Ende. Patung tersebut berdiri tegak. Baranuri menggenggam sebilah parang dan siap menyerang seekor singa lambang kekejaman kaum kolonial Belanda.

Keperkasaan Baranuri kembali terungkap tatkala memandang patung Baranuri. Terkesan betapa garangnya dia melawan kegarangan manusia penjajah yang tidak pernah tahu bahwa harkat dan martabat manusia adalah nomor satu dalam kehidupan seorang manusia. Masih banyak kisah dari Ende yang perlu direnungkan di era ini. (Bonne Pukan, dari berbagai sumber—– HABIS)

3 Responses to “Tubu Musu Ora Mata” Manungo’o, Kekuatan Heroisme Baranuri

You must be logged in to post a comment Login