Quantcast

SEJARAH LOKAL/ BARANURI (Bagian Satu)

Baranuri Menguak Tabir Kesengsaraan Masyarakat

BANYAK orang Ende memang memiliki kisah ceritera berbeda tentang Baranuri dan perjuangannya masa lalu di Ende. Aneka versi ceritera itu juga dikisahkan juga tidak runut sehingga mengundang tanya. Meski demikian ada sisi terang yang perlu diungkapkan tentang perjuangan Baranuri kala itu.

Mungkin tidak pernah diketahui umum dan meluas perihal kisah hidup dan perjuangan seorang tokoh bernama Baranuri tempo Doeloe. Tokoh ini masih menempati hati warga Kabupaten Ende dan terus mendapat tempat di setiap percikan pengalaman masa lalu para tokoh “rambut uban” di Kota Ende.

Figura Baranuri yang dilukis Puah Muchsen

Baranuri seorang Atangga’e (raja menurut bahasa setempat) pernah mengukir kisah paling menarik dan berkesan. Keprihatinan akan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang diharapkan boleh “menghirup udara bebas” dalam rasa persaudaraan. Ketika semua itu “terkoyak” nurani Baranuri merontak keras ingin menumpas kekerasan dan kebrutalan kaum kolonial Belanda masa itu.

Stevan Dictrich dalam bukunya berjudul Flores In The Nineteenth Century: Aspects Of Dutch Colonialism On A Profitable Island menuliskan semula Baranuri berselisih paham dengan seorang atangga’e lainnya karena atangga’etersebut sekongkol dengan kaum kolonial. Penindasan demi penindasan yang dilancarkan kaum kolonial kala itu nampaknya “direstui” atangga’e dimaksud.

Nasib hidup masyarakat pribumi yang kerap diperbudak kolonial menggugah nurani Baranuri untuk tampil melawan penindasan dan tirani yang terus dilancarkan tanpa peri kemanusiaan itu.

Tangisan warga meluluh lantahkan hati Baranuri sekaligus mengobarkan rasa kebencian untuk tampil bersama masyarakat menentang perlakuan yang non manusiawi itu. Bahkan ada kejadian perbudakan dan perdagangan budak.

Baranuri bersama kelompok masyarakat berusaha menentang persekongkolan atangga’e lainnya. Senjata mulai angkat bicara. Kaum kolonial mulai merasa terancam akhirnya tahun1877 dikeluarkan sebuah keputusan pemerintahan kolonial Belanda melarang penjualan dan peredaran senjata di Ende.

Hal ini dilakukan untuk meredam jangan sampai Baranuri muncul dengan persenjataan lengkap, dan mengadakan perlawanan. Tetapi Baranuri yang sudah “panas” berusaha dengan berbagai cara memperoleh senjata. Ia akhirnya membeli dan mendatangkan senjata dari pulau Sumba, kebetulan istrinya berasal dari Sumba sehingga dia dengan mudah memperoleh senjata. Beberapa pucuk senapan dan sebuah meriam berhasil digenggamnya untuk mengadakan perhitungan dengan kaum penjajah.

Baranuri dengan ratusan prajuritnya semakin disegani dan turut diperhitungkan. Melihat gejala ini, Controleur di Sumba mulai membujuknya untuk memecat para prajuritnya dan kembali mentaati perintah Belanda.

Dari situlah Baranuri yang merasa berhutang budi pada Controleur Belanda mulai melebarkan kegiatannya ke arah Manggarai. Tapi kemudian dia berselisih dengan Asisten Residen Brugman. Perselisihan itu bermula dari penyitaan sebuah perahu motor milik Baranuri oleh Asisten Residen di Flores. Brugman memaksa Baranuri untuk menyerahkan diri. Baranuri akhirnya diasingkan ke Kupang.

Selama pembuangannya di Kupang, Baranuri tinggal di Namosain. Bulan Juni 1890 dia berhasil melarikan diri dari Kupang dengan sebuah perahu motor curian dan mendarat di Ngalopolo-pantai selatan Ende. Dalam perjalanan pulang dia ditemani dua orang yakni Manu dan Sama, namun keduanya meninggal dalam perjalanan dari Kupang karena mereka tidak memiliki bekal dalam perjalanan.

Stamina Baranuri pun sudah semakin lemah, dan ketika perahu mendarat di Ngalopolo, Baranuri langsung pingsan. Para nelayan sempat menolongnya dan mengantarnya untuk menginap di rumahnya Woda Biru seorang Mosalaki di Ngalopolo. Beliau kemudian menyusun strategi baru. Dia berhasil mengumpulkan sekitar 300 prajurit baru dan prajuritnya yang lama dengan markas persembunyiannya di kampung Aembonga.

Brugman memerintahkan pengikutnya untuk membumi hanguskan Aembonga. Namun Baranuri dan pengikutnya sudah meloloskan diri ke Onekore dan membangun sebuah benteng di Manunggoo dekat kompleks RSU Ende sekarang di kaki Gunung Kengo.

Kelicikan Baranuri sempat memupuskan semangat Brugman. Akhirnya tahun 1891 Brugman meminta bantuan dua buah kapal dari Residen di Kupang. Datanglah bantuan dua buah kapal laut SS Jawa dan SS Van Spijk, berlabuh di pantai Mautapaga dekat Pulau Koa.

Tanggal 13 September 1891 Brugman diganti oleh Rozet yang kemudian berhasil merayu tokoh masyarakat di kampung Reworeke dan Waturoga untuk membujuk Baranuri. Baranuri akhirnya berhasil ditangkap dan diasingkan ke pulau Jawa dan terakhir ke Sumatera dan meninggal di sana. (Bonne Pukan, dari berbagai sumber. BERSAMBUNG)

 





2 Responses to "Baranuri Menguak Tabir Kesengsaraan Masyarakat"

You must be logged in to post a comment Login