Quantcast

Suster Olympia, Raih IPK Tertinggi Lulusan Universitas Flores

Niat, Kesetian dan Cinta

 

ENDE, FBC- Tidak ada hal yang luar biasa dapat terjadi jika hal-hal kecil tidak dijalani dengan niat yang sungguh, kesetiaan dan cinta yang besar.

Suster  Olympia, KFS, mengatakan hal itu dalam sambutan pada acara wisuda Univeristas Flores, di Aula Unflor, jalan Sam Ratulangi-Ende, Kabupaten Ende, Sabtu (06/04) lalu. Ia adalah peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi (3,75)  dari 753 wisudawan/i lulusan Semester Ganjil Periode 2012-2013 Universitas Flores (Unflor).

Suster Olympia, KFS : "“Taman yang subur niscaya akan menghasilkan kuncup-kuncup bunga yang siap untuk mekar". (Foto : FBC/Guche Montero)

Olympia Wea, demikian nama yang diberikan kedua orang tuanya. Lahir dari keluarga sederhana di kampung Nduaria, kecamatan Kelimutu-Kabupaten Ende pada 16 Februari 1975. Anak keempat dari tujuh   bersaudara pasangan Gabriel Kaki dan Agnes Dete ini tidak pernah merasa putus asa.

Sejak masih di rumah bersama keluarganya, Olympia sudah menunjukkan keseriusan dalam menjalani tugas-tugas yang diberikan orangtua kepadanya. Ia sadar bahwa hanya melalui perjuangan, hidup keluarga sederhana bisa menghasilkan anak-anak yang berguna bagi orang lain.

 “Niat adalah kekuatan pertama untuk menemukan jalan,” demikian prinsip yang mendorongnya.

Setelah menamatkan pendidikan Dasar di SDK Nduaria, Olympia  melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Wolowaru dan SMEA (sekarang SMK) Negeri 2 Ende hingga selesai pada tahun 1995. Selama menjadi pelajar, prestasinya biasa-biasa saja.

Setahun kemudian setelah tamat SMK, tepatnya tahun 1996, Olympia membulatkan niatnya untuk memilih hidup membiara pada Kongregasi Fransiskanes Sambes (KFS). Sejak itu, ‘gelar’ kebiaraan pun terus melekat dengan pribadinya; Sr. Olympia, KFS.

Keteguhan Hati

Keteguhan hati pada pilihan hidup membiara yang dijalaninya selama 9 tahun akhirnya berpuncak pada ikrar kaul kekal kebiaraan pada tahun 2006 dengan memilih motto kaulnya: “ Doa adalah awal dari segala karya.”

Di samping menjalani rutinitas biara yang menekankan aspek kematangan spiritual, Sr. Olympia juga aktif mendampingi anak-anak Sekolah Minggu (SEKAMI) di paroki St. Yosef Frenademetz, Mautapaga-Ende serta mengisi waktu luang dengan membaca.

Dua tahun kemudian (2008), Sr. Olympia terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores (Unflor). Masa-masa perkuliahan dijalaninya dengan sepenuh hati, disiplin dan konsekuen serta menjadikan sebagai satu bentuk tugas perutusan yang mulia dari Kongregasi.

Lima tahun berlalu melewati segala bentuk tuntutan akademis yang tidak mudah. Tibalah saat penentuan kelulusan sebelum memperoleh gelar sarjana, Yudisium akhir. Tidak terbayangkan dalam benaknya sebelumnya bahwa ia akhirnya lulus dengan predikat cum laude (terbaik).

“Saya hanya bisa bersyukur karena itu semua adalah rahmat di balik setiap usaha dan perjuangan saya yang cukup melelahkan. Saya persembahkan semuanya untuk almamater tercinta, Kongregasi dan buat semua orang yang telah mendukung saya. Hanya kata syukur yang bisa saya ucapkan saat itu,” ungkapnya.

Moment yang dinanti-nantikan ratusan calon sarjana pun akhirnya tiba termasuk Sr. Olympia yang dipercayakan untuk menyampaikan sambutan mewakili para wisudawan/i. Ribuan pasang mata terus mengawasi langkah kaki si ‘orator’ tunggal. Semua larut dalam suasana hening menemani derap langkah kaki yang terus melangkah dengan irama degup jantung yang berdebar.

Sesaat menatap ribuan pasang mata, tanpa ragu ia pun mulai mengurai deretan kalimat bernada puitis yang membuat audiens berdecak kagum.  “Taman yang subur niscaya akan menghasilkan kuncup-kuncup bunga yang siap untuk mekar tanpa mengenal musim. Keindahan taman baru punya arti jika ada kuntum-kuntum bunga yang menghiasi,” katanya pada awal sambutannya.

 “Moment pengukuhan gelar sarjana hari ini merupakan pembuktian akademis dan terutama kemampuan diri para wisudawan/i yang telah matang secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Sarjana adalah orang-orang terdidik yang siap berdiri tegak untuk mengangkat dan menggugat status quo yang pincang di tengah lingkup sosial,” lanjutnya.

Dengan nada optimisme ia menegaskan bahwa dengan bekal nilai moral, akademis dan spiritual, para mahasiswa yang baru menyandang keserjanaan siap mengabdi dan berkarya dengan hati nurani sebagai kawula intelektual di tengah masyarakat dan bangsa. “Hari ini kami semua tengah diliputi perasaan bangga karena kami menjadi putera dan puteri terbaik yang pernah lahir dari rahim sejarah Unflor ini,”ungkapnya.

Di akhir sambutannya, ia menitipkan harapan yang dialamatkan kepada para wisudawan/i. “Untukmu para sarjana, jadilah sarjana yang sarjana sebagai milik dan kebanggan kita bersama mulai saat ini hingga kapan dan di manapun kita akan berkarya dan berbakti. Banyak orang dapat melakukan hal-hal besar, namun hanya sedikit orang yang dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar,” simpulnya dengan mengutip kata-kata Muder Theresa dari Kalkuta.

Saat didekati FBC sesaat setelah penutupan acara Sidang Senat Terbuka, ia yang dikenal ramah ini dengan wajah sumringah bersedia diwawancarai. “Awalnya saya sedikit gugup karena baru kali ini saya tampil di depan ribuan pasang mata. Ketika semuanya berakhir, saya justru memahaminya sebagai langkah awal untuk terjun ke medan karya selanjutnya. Inilah panggilan dan tugas perutusan bagi banyak orang,” kesannya.

Mengenai Unflor yang menjadi almaternya, ia mengharapkan agar ke depannya terus menjadi taman yang subur untuk terus menghasilkan ‘benih-benih’ lulusan terbaik yang siap mengabdi untuk banyak orang.

“Semoga 753 ‘kuntum bunga’ yang hari ini telah mekar dari taman indah Unflor senantiasa mengahruskan nama Ende, Flores, NTT dan Indonesia,” harapnya.(Guche Montero)





You must be logged in to post a comment Login