Quantcast

Lika-liku Paus Fransiskus I Menuju Papancho

Martin Bhisu

Oleh : Martin Bhisu

Papancho,  nama  Paus Francisco I yang diberi orang Argentina. Pancho, panggilan manis dari Francisco, sementara itu “Pa” berasal dari kata Papa, Paus. Biasanya di Amerika Latin, memberi nama manis kepada figur tertentu tak lain ungkapan dari rasa empati, kedekatan dan kasih. Untuk Bergoglio, nama ini pas karena orang-orang  di Buenos Aires ketika bertemu dengannya di dalam bis ataukah di dalam kereta api memanggilnya “pancho”.

Memilih Fransiskus sebagai nama Paus tentu merupakan  ungkapan sikap hidup dan pengalaman iman Bergoglio. Sebuah kekosongan yang tembus pandang dari seorang kudus seperti Fransiskus I Asisi, yang hidup miskin adalah pilihan bagi diri sendiri bukan dipaksakan kepada orang lain, merupakan sinyal efikas dari sebuah kenabian yang merupakan kekuatan espiritual dari Papancho.

Selanjutnya, sebagai seorang Yesuit, spiritualitas ignasian tentu faktor lain yang memberi nilai plus untuk tak henti melakukan discernimiento, atau olah refleksi diri dalam hubungannya dengan panggilan dan  tanda-tanda zaman melalui mana Tuhan berkarya secara nyata.

Sebelum menjadi Papancho, Bergoglio memang manusia biasa yang hidup sederhana. Suatu hari seorang pejabat teras PBB, menumpang kendaraan berlapis baja, pergi bertemu Kardinal  Bergoglio di keuskupan. Apa yang terjadi di sana? Sang Kardinal turun dari tangga membuka pintu mobil.

“Yang mulia, mengapa melakukannya?”, tanya sang diplomat dengan rasa kejut melihat hal yang harus dilakukan oleh seorang bawahan. Jawaban Bergoglio adalah sebuah gurauan, tapi simbolis: “ya itu pekerjaan para kardinal untuk membuka pintu iman.”

Begitu biasa dan sederhana, sampai dia mengambil cara hidup seperti orang kebanyakan. Barangkali faktor keluarga yang memberinya nilai percaya diri, membantunya untuk hidup  tanpa kecurigaan, sangat membantu Bergoglio untuk bertualang tanpa kenal batas-batas marginal yang dibuat oleh prasangka tak manusiawi.

Sesudah meresmikan sebuah kapela di keuskupannya, seorang umat menawarkan diri untuk mengantarnya dengan mobil. Terima kasih -jawab beliau- dengan kereta api saja. Di Buenos Aires, menumpang kereta api adalah pilihan para buruh, orang-orang sederhana, karena memang tarifnya sangat murah. Sampai sekarang orang masih mengenang seorang kardinal dengan pakaian biasa di antara para penumpang “biasa”.

Sekarang sudah menjadi Paus, Papancho. Siaran-siaran TV Argentina menghidangkan keterkejutan banyak orang, sekaligus luapan kegembiraan orang-orang sekaligus rasa sesal karena orang yang dekat dengan mereka selama ini sudah jauh berada di puncak kekuasaan Gereja Katolik.

Apakah manusia yang dekat dengan sesamanya bisa pas untuk hidup di tengah kerumitan Curia Romana dan menjadi figur aktraktif secara spiritual untuk menjadi gembala ribuan juta jiwa umat Katolik yang sudah tak menemukan hiburan iman? Sebuah pertanyaan dari segelintir orang yang serius menyelami seluk beluk kerumitan Gereja akhir-akhir ini.

Pertanyaan di atas tidak mengandaikan sebuah keraguan. Karena Papancho adalah Bergoglio yang punya daya tahan spiritual dan eksperiensial, yang ditimbahnya dari liku-liku pastoral yang panjang serta pergumulan sosial dalam terang iman yang intens. Seorang pastor seperti dia, tak akan meninggalkan kawanan gembala yang tercecer dalam dunia keseharian penuh kesulitan.

Seorang reporter TV Canal 9 Buenos Aires menceritakan sebuah ankedot tentang kesetiaannya sebagai pastor. “Bergoglio yang dulu sebagai seorang anak muda, menjadi imam, sekarang Paus. Ketika masih berumur 12 tahun dia jauh cinta dengan seorang gadis, sama-sama puber.

Entah karena apa, suatu saat dia berkata kepada pacarnya: kalau engkau tidak menikah dengan saya, saya akan jadi imam”. Yang jelas, Tuhan bisa menulis lurus pada garis yang bengkok. Bukan hanya imam, tapi Paus di tengah harapan dan putus asah, cinta dan benci, skandal dan pengampunan.

Pengalaman pastoral yang bertumpuk, faktor eksperiensial dalam mengolah persoalan-persoalan sosial dalam terang injil, membuat seorang Bergoglio sebagai pribadi yang tegas tapi lembut. Kata-katanya bisa sangat lugas dan terus terang kalau menyangkut sebuah kebenaran. Bahkan bisa mengiris hati pendengar, terkadang tak dimengerti dan ditolak, tapi dia selalu mengambil jalan yang benar, dalam banyak hal dialogis.

Sikapnya yang dialogis sangat dikecam oleh segelintir uskup konservatif yang menganut orthodoksi fundamentalis. Masalah-masalah krusial dan sensitif bagi Gereja, misalnya UU Perkawinan Gay, legalisasi aborsi dan penggunaan anti-konseptif, memang merupakan pukulan telak bagi para uskup Argentina yang konservatif. Bergoglio menyadarinya, dan memilih jalan moderat dan dialogis.

Bergoglio seorang yang moderat. Posisinya berpijak pada orthodoksi doktrinal dan keterlibatan sosial yang konkret, tanpa mempertajam konfrontasi. Pilihan seperti ini sangat ditantang oleh kelompok uskup konservatif dari Konferensi Wali Gereja Argentina (CEA) . Pendapat banyak orang sekarang, setelah menjadi Papancho, dialog dengan Presiden Argentina, Cristina Fernandez, bisa dibuka dengan lapang.

Kesulitan bagi Bergoglio selama menjadi ketua CEA adalah tantangan dari uskup-uskup konservatif. Paus Yohanes Paulus II, untuk mentralisir Teologi Pembebasan di Amerika Latin, telah memberi angin baik bagi kelompok-kelompok ini, yang akhirnya juga menutup kemungkinan bagi implementasi Konsili Vatikan II.

Selama Angel Sodano  sebagai Sekretaris Negara Vatikan, konservatisme menjadi gejala yang nyata di Argentina, terutama melalui pengangkatan uskup-uskup. Pada tahun 2011, sesudah Sodano berhenti, Bergoglio membicarakan hal ini dengan Benedicto XVII.

Bergoglio mempunyai pamor internasional sangat diakui. Wawasannya yang luas tentang masalah-masalah sosial membuat dia narasumber PBB. Kekuatan kesaksian hidup yang injili berhubungan dengan masalah-masalah sosial sekarang serta berpegang teguh prinsip-prinsip doktriner Gereja, membuat dia mendapat 40 suara waktu konklav yang memilih Ratzinger menjadi Paus. Bahkan dalam Sinedo Uskup di Roma dia menjadi favorit. Tidak kebetulan juga Konferensi Wali Gereja Espanyol mengundang dia memberi retret.

Dan tantangan bagi Papancho sekarang lebih sulit. Para kardinal memilihnya menjadi paus tentu karena dirinya bisa menjawabi masalah yang dibicarakan selama sidang para kardinal sebelum konklav.

Pertama, reformasi Curia Romana: harus terarah kepada simplifikasi struktur yang ada, agar tidak menjadi organ pemerintahan dimana kekuasaan bisa menjadi bumerang bagi iman.

Kedua, sekularisasi dan kekurangan panggilan. Papancho kiranya dapat mendorong reelaborasi katekese katolik dalam bahasa yang “baru” untuk mewartakan Kristus secara atraktif.

Ketiga, evangelisasi baru. Keluarnya banyak umat dari Gereja dan sekularisasi, evangelisasi baru merupakan tuntutan, bukan hanya menyangkut metode, tapi juga isi.

Keempat, skandal seks. Bukan hanya menyelesaikan kasus secara tegas, tapi lebih dari itu bagaimana memberi perhatian sungguh-sungguh pada pendidikan calon imam.

Kelima, transparansi Bank Vatikan. Harus menjadi “bank etis”, mungkin lebih baik keluar dari sistem bank internasional.

Penulis, Misionaris di Asuncion, Paraguay.

 





One Response to "Lika-liku Paus Fransiskus I Menuju Papancho"

You must be logged in to post a comment Login