Quantcast

Tanaman Naga Mulai Dikembangkan di Lembata

LEWOLEBA, FBC- Tanaman buah Naga kian menjadi perhatian para petani di Indonesia, temasuk petani di Lembata. Perhatian ini  lantaran tanaman ini sudah terbukti  menjadi komoditas yang berprospek eksport yang sangat menjanjikan.

Adalah Bernardus Bera Koten, salah seorang petani sukses di Lembata  kini tengah mengembangkan  tanaman buah naga di atas areal tanahnya di dataran bukit Hukung,  desa Pada,  Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata.

Bernardus Bera Koten-di Lokasi Pengembangan Tanaman-Naga. (Foto : FBC/Lukas Narek)

Sebelum,  mantan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lembata yang sudah pensiunan 1 Nopember 2008 lalu ini,  memutuskan untuk mengembangkan tanaman naga, dia  melakukan berbagai studi dan survey ke berbagai tempat, bahkan dia sempat berkunjung ke lokasi pengembangan tanaman naga  di Jawa.

“Saya sangat tertarik ketika melakukan survey dan studi lapangan ke lokasi pengembangan tanaman buah naga  milik PT Aries Kediri, di Jawa Timur,”  ungkap Nadus kepada FBC,  yang mengunjunginya di lokasi pengembangan tanaman buah Naga miliknya di dataran bukit Hukung, Sabtu (16/2).

Menurutnya, kaktus naga ini, sangat  cocok ditanam di atas struktur tanah liat, pasir-berklikir serta cadas. “Daerah pengembangannya sangat dimungkinkan ditanam di ketinggian 0 hingga 3.000 meter dari atas permukaan laut,” jelasnya.

Awal Pengembangan

Sepulang dari kunjungan ke Jawa, Nadus, demikian Bernardus Bera Koten, biasa disapa, membanding-bandingkan  struktur tanah, geografis lokasi, dan iklim di Lembata. Ia pun  mengundang pengusaha besar PT Aries Kediri bersama Tim Ahli Naga datang ke Lembata awal bulan Agustus 2012 lalu.

“Selama 2 hari, tim ahli tanaman buah naga tinggal di Lembata dan melakukan survey teknis atas lokasi 18 hektar miliknya,” ungkap Nadus.

Setelah diperoleh kesimpulan bahwa areal tanah cocok ditanami tanaman Naga, Nadus kemudian memutuskan untuk membudidayakan di bukit Hukung. Rencana pun ia buat  dan kontrak kerja sama (MOU) pun ia lukakan antara PT  Aries Kediri yang diwakili Aris Nugroho.

Kontrak perseorangan atas nama Bernardus Bera Koten, berisi kerja sama teknis mulai dari penanaman, pemupukan, perawatan hingga pemasaran menjadi tanggung jawab bersama kedua belah pihak. Hasil penjualan perdana Rp. 15.000,- per kilogram akan dibagi dua.

Dalam kontrak kerjasama itu dinyatakan pula, apabila bulan keenam sejak penanaman benih bulan September 2012 tidak memberikan produksi maka pihak PT Aries Kediri siap mengganti rugi seluru pengeluaran yang telah digunakan untuk membiayai proses produksi tanaman buah naga ini.

Realisasi kontrak mulai berjalan sejak tim ahli tanaman buah naga mulai melakukan pendampingan teknis persiapan lokasi dan sarana tanam. Kegiatan lanjut berupa pendropingan benih sejumlah 5.000 anakan tanaman buah naga dari PT Aries Kediri Jawa Timur. Sesuai permintaan Nadus dan kesepakatan kedua belah pihak,  harga Rp. 15.000,- per anakan, sama dengan Rp. 75.juta. Sementara realisasi pembayarannya cuma Rp. 40.juta.

“Akhir bulan Desember 2012 lalu, naga berbunga dan berbuah perdana namun gugur. Kini, tinggal mengungu waktu bunga dan buah tetap dalam satu dua bulan kedepan,” kata Nadus, mantan Camat Atadei Kabupaten Lembata ini dengan bangganya.

Suami Lusia Lena Amabelen (58) ini memprediksi waktu pemanenan perdana buah naga. Menurutnya, sekitar bulan April atau bulan Mei 2013 mendatang tanamannya sudah bisa dipanen.

“Target panenan perdana buah naga sekitar 20 ton hasil produksi dari 5000 pohon naga,” ujarnya.

Dalam kalkulasi Nadus, kalau dipasarkan dengan harga Rp.15.000 per kilogram saja, maka uang yang didapat  dalam panenan perdana  sudah mencapai Rp. 300.juta. “Sungguh, sebuah hasil yang sangat luar biasa dan dapat menutupi segala pengeluaran selama proses produksi,” aku Nadus dengan senyum.

Asal muasal Tanaman Naga

Tanaman Naga  merupakan tanaman berjenis kaktus yang berbuah. Daunnya berwarnah hijau, merambat dan melilit kayu penyangga. Buahnya  dapat dimakan. Kulit buahnya berwarna merah dan kuning. Daging buahnya berwarnah putih dan  merah kehitam-hitaman. Rasanya manis dan gurih.

Usia berbunga dan berbuahnya cuman enam bulan setelah tanam dan berproduksi secara berkelanjutan, tergantung perawatan yang intensif. Masa produksinya hingga mencapai 75 tahun, bahkan hingga 100 tahun lebih untuk wilayah Nusa Tenggara Timur. “Tergantung iklim dan kontur tanahnya. Tentunya tanaman buah naga ini dapat diwariskan hingga ke anak-cucu,” jelas Nadus.

Sementara, cara budi daya tanaman ini  praktis dengan tiang penyanggah yang tidak terlalu membutuhkan biaya. Bahkan tiang penyanggah beton dapat diganti dengan kayu mati. Penyanggahnya pun dapat dari ban bekas atau cara lainnya  yang menjamin kenyamanan berdiri yang kokoh dan menebar tunas dengan mudah.

Melihat proses produksi tanaman ini  mulai dari penanaman, pemupukan, perawatan hingga produksi atau pemanenannya, memang pekerjaannya sangat  praktis, sederhana dan murah.

Jaringan pemasaran dan eksportnya pun siap dengan harga yang menjanjikan. Banyak petani dan pengusaha kini mulai beralih untuk mengembangkan tanaman buah naga.

Manfaat daging buahnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti penyakit kanker hati, kangker payudarah, penyeimbang gula darah, kolesterol, darah tinggi, strok, demam berdarah dan jenis penyakit dalam lainnya.

Menurut beberapa sumber, buah naga putih berasal dari hutan Meksiko dengan nama “papahaya”. Benihnya, kemudian dibawah oleh pasukan Amerika Serikat ke Vietnam Selatan dan kemudian tersebar ke negara-negara sekitarnya.

Tanaman kaktus ini, kemudian oleh ahli pertanian Korea Selatan dikembangkan dan dikawin-silangkan dengan sejenis kaktus merah sehingga menghasilkan buah naga dengan dagingnya berwarnah merah.Di samping itu, buah naga merah dikawinkan dengan kaktus berwarnah hitam menurunkan buah naga berwarna hitam (super).

Bernardus Bera Koten Kini tinggal menunggu waktu berbuah perdana. (Foto : FBC/Lukas Narek)

Sementara ahli pertanian Israel melakukan perkawinan silang antara tanaman buah naga yang berwarnah putih dengan kaktus yang buahnya berwarnah kuning, sehingga menghasilkan buah naga yang berdaging kuning.

Buah naga kuning dan buah naga berdaging putih mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 2000. Sedangkan buah naga jenis merah dan hitam baru dikenal tahun 2003.

Buah naga berdaging hitam atau super sangat menguntungkan. Jangka waktu budidayanya pun cuma sembilan bulan sudah dapat berbunga dan bulan kesebelas sudah dapat berbuah dan berproduksi.

Setiap pohon tanaman buah naga super dapat menghasilkan minimal 12 buah dengan bobot 3-6 ons per buah. Sangat cocok untuk tujuan investasi karena sangat menguntungkan.

Pasar Buah Naga

Dari aspek perdagangan, produksi buah naga sudah menjadi incaran para pebisinis elitis ekonomi. Secara ekonomis, berbisinis buah naga sungguh sangat menguntungkan. Standar harga pasaran lokal saja Rp. 20 ribu- sampai dengan Rp. 35.ribu – per buah. Sementara harga eksport saja, berkisar antara Rp. 20.ribu,- hingga dengan Rp. 150.ribu,- per kilogram sesuai kualitas produksinya.

Tanaman buah naga pada dasarnya dapat ditanam di mana saja. Sangat cocok tumbuh baik di dataran rendah, pinggiran pantai dengan suhu udarah 350 derajat Celsius. Butuh sinar matahari yang stabil.

Sementara untuk di daerah dataran tinggi, tanaman ini hanya dapat hidup dan berproduksi baik di atas ketinggian 350 – 1200 di atas permukaan laut dengan suhu udarah ideal 26 – 36 derajat Celsius dan tingkat kelembapan 70 – 90 persen.

Nadus, putera asal Belogili kecamatan Tanjung Bunga kabupaten Flores Timur, yang sudah puluhan tahun menjadi warga  Lembata,  mengatakan baru ada tiga tempat di NTT yang melakukan pembudidayaan tanaman naga,  yaitu di Ende milik Yayasan Pendidikan SMA Katolik Syuradikara Ende Kabupaten Ende sejumlah 7.500 pohon,  Susteran SSpS Maumere sejumlah 5.000  pohon dan menyusul dalam tahun yang sama, tahun 2012 milik bapak Bernardus Bera Koten sejumlah 5.000 pohon yang tinggal.

Kini tinggal menunggu waktu berbuah perdana. (Lukas Narek)





One Response to "Tanaman Naga Mulai Dikembangkan di Lembata"

You must be logged in to post a comment Login