“Paket Hemat” Kurikulum 2013 ? (Bagian 2-Habis)

Sebastianus Fedi

Oleh: Sebastianus Fedi*

Mengikuti paradigma belajar abad ini, berarti semua sarana dan prasarana pendidikan harus setara dengan perkembangan teknologi kekikinian. Sumber informasi ilmiah bagi siswa, sebagian besar adalah dari buku/kepustakaan atau postingan ilmiah di situs internet. Pertanyaannya, apakah semua sekolah dasar dan bahkan sekolah menengah memiliki sarana perpustakaan yang memadai, termasuk fasilitas internet?

Data Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengungkapkan bahwa hanya 1% dari 260.000 sekolah dasar negeri yang memiliki perpustakaan (http://perpustakaan.narotama.ac.id, diunduh pada 24 Januari 2013).Apalagi dengan internet.

Laporan harian DailySocial (http://dailysocial.net, diunduh pada 25 Januari 2013), menemukan bahwa hanya 21 persen penduduk Indonesia berusia antara 15 dan 49 tahun yang mengakses internet.Dalam hal ini, pemerintah mengembangkan kurikulum 2013 dengan mengabaikan aspek Keadaan Lingkungan yang mencakup ketersediaan sarana dan prasarana (Hamalik, 2010:19).

Jadi, harus direncanakan matang-matang, kapan mulai berlakunya kurikulum baru ini. Sebaiknya, pemerintah terlebih dahulu membenahi sarana dan prasarana pendidikan, kemudian kurikulum baru diberlakukan. Atau keduanya dijalankan sekaligus.

Walapun demikian, salah satu keunggulan (rancangan) kurikulum 2013 adalah  mengubah standar penilaian dengan penekanan utama pada instrumen portofolio. Sesuai tuntutan zaman, maka lulusan harus memiliki kompetensi terampil. Siswa bukan hanya menguasai konsep ilmu (pengetahuan/aspek kognitif) tetapi siswa ditantang untuk mewujudkan karya-cipta. Jadi, wajar bila pemerintah menambah instrumen penilaian portofolio dan penilaian afektif. Ini akan mengurangi proporsi penilaian kognitif (tes). Dengan demikian, pendidikan kita bukan hanya menanamkan pengetahuan tetapi juga menggembleng sikap dan keterampilan siswa.

Dalam KTSP, penilaian berkesan belum lengkap karena cenderung hanya mengandalkan tes (kesan: aspek kognitif saja). Walaupun aspek keterampilan muncul dalam tagihan KD dengan rumusan ‘mampu menerapkan konsep … dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari’. Tetapi instrumen penilaian untuk KD ini umumnya hanya menggunakan tes tertulis.

Pergantian Kurikulum: bisnis kebijakan Kemdiknas?

Fenomena pergantian kurikulum seperti 10 tahun terakhir ini menimbulkan nuansa instabilitas kebijakan pendidikan Indonesia. Bayangkan, jika kurikulum 2013 resmi, maka sejak 2004 hingga awal 2013 ini, sudah terjadi 3 kali pergantian kurikulum: KBK 2004, KTSP 2006 dan kurikulum 2013. Dari segi waktu, singkatnya usia sebuah kurikulum membuat pelaksanaannya tidak maksimal, dan sulit dibuat evaluasi kelebihan dan kelemahannya.

Ada dua persepsi yang timbul: (i) kurikulum dikembangkan tanpa pertimbangan yang matang terhadap perkembangan berbagai aspek kehidupan; dan (ii) Pergantian kurikulum sarat kepentingan politik bahkan bisnis. Seolah-olah, kurikulum dibuat tergantung pada otoritas pendidikan.

Maka dalam pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum 2013, pemerintah harus mencermati kebijakan sedetail mungkin, mengacu pada aspek-aspek pengembangan kurikulum. Pemerintah harus mendengar dan mempertimbangkan semua masukkan elemen masyarakat. Penulis berpikir, kebijakan integrasi bidang studi sangat rentan terhadap stabilitas kurikulum. Mungkin ini sengaja dibuat, agar jawatan kependidikan Indonesia menjadi lahan bagi kelompok pengusaha percetakan, penerbit buku, perusahaan kertas, dan sebagainya. Otoritas pendidikan pun lancar berbisnis keputusan dan mendapat segudang duit.

Paket hemat kurikulum 2913 bukannya solusi masalah tanpa masalah, malah solusi solusi masalah tambah ribet masalahnya. Kurikulum 2013 seharusnya berorientasi jauh ke depan. Sehingga, benar dugaan publik: ganti menteri, bongkar kurikulum. Jika setiap menteri bertingkah begini, mau diapakan pendidikan Indonesia Raya ini?

*Penulis: mahasiswa jurusan Matematika, Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Bekerja di STKIP St. Paulus Ruteng. 

One Response to “Paket Hemat” Kurikulum 2013 ? (Bagian 2-Habis)

You must be logged in to post a comment Login