Quantcast

OPINI

“Paket Hemat” Kurikulum 2013 ? (Bagian 1)

Sebastianus Fedi

Oleh: Sebastianus Fedi*

Pemerintah berusaha menerapkan kurikulum 2013 tahun ini juga dengan perubahan pada empat elemen pokok: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, dan standar penilaian. Apakah “paket hemat” (baca: pengabungan beberapa matapelajaran) kurikulum 2013 mampu menuntas kekumatan pendidikanIndonesia?

Penggabungan mata pelajaran tertentu di SD atau SMP, bukankah sebuah kebijkakan menabrak spesialisasi ilmu. Ilmu yang dipecahkan ke dalam skope yang lebih mikro saja sudah begitu sulit dituntasajarkan, apalagi digabung pasti lebih sulit.

Teori penggabungan ilmu ini sudah pernah dipostulatkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Filsuf Perancis ini menggunakan prinsip historis dalam usaha mengelompokkan ilmu pengetahuan. Ilmu digabungkan berdasarkan pada dua aspek yaitu ilmu tertua-ilmu termuda dan selanjutnya ilmu terumum-ilmu terkhusus.

Logika, matematika, astronomi (ilmu tertua) dipisahkan dari fisika, kimia, biologi, sosiologi (ilmu termuda). Lalu, dari setiap disiplin ilmu itu masih umum. Karena itu belakangan, muncul cabang-cabang ilmu yang lebih khusus lagi.

Bagaimana dengan usaha pemerintahIndonesiamengintegrasikan mata pelajaran IPA dan IPS ke mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar?  Layak atau tidak layak diintegrasikan? Bagaimana membaca paket hemat ini?  Penulis coba membedahnya dari segi hakikat pendidikan dan hakikat kedua ilmu itu sendiri.

Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan dalam kurikulum baru adalah pengintegrasian mata pelajaranIPASDke mata pelajaran Matematika. Dari segi psikologi perkembangan anak, pengetahuan dasar IPA penting bagi pembentukan nilai, karakter  dan mendukung terciptanya keterampilan hidup anak berkaitan dengan pola hidup sehat, pelestarian lingkungan, dan memahami teknologi.

Jika orientasi pendidikan nasional kita adalah keseimbangan antara pengetahuan (abstrak) dengan keterampilan (nyata), maka harus kita pikirkan bahwa untuk anak SD pengaruh IPA akan sangat menentukan sikap anak dalam hidup. Sikap hidup dapat dianggap sebagai bagian dari keterampilan.

Dalam hal ini, terampil kita maknai sebagai mampu berbuat atau mampu berperilaku sesuai konsep ilmu. Misalnya, konsep bakteri berkembang di tempat-tempat kotor (pengetahuan, abstrak), akan mempengaruhi siswa untuk menjaga kebersihan (nyata).

Secara psikologis, anak-anak usia SD belum mengerti hubungan antar gejala alam (IPA). Walaupun mereka mengalami gejala-gejala itu dalam diri mereka sendiri atau sebagai bagian hidup mereka setiap hari. Dalam dunia pendidikan, yang diutamakan adalah pengetahuan ilmiah: pemahaman sesuatu karena cara-cara ilmiah.

Pengetahuan non-ilmiah hanya sebatas pemahaman pribadi berdasarkan penginderaan. Jadi kalau tidak ada spesifikasi pelajaran IPA di SD, dikhawatirkan pengetahuan (IPA) anak-anak sebagian besar hanya berdasarkan penafsiran pribadi sesuai hasil penginderaannya, entah dilihat, didengar, diraba, atau dirasakan.   Sebagai bunga yang sedang tumbuh, anak usia SD membutuhkan asupan pokok-pokok pengetahuan dasar IPA secara spesifik, misalnya tentang zat-zat berbahaya, cahaya, cuaca, bunyi, organ-organ tubuh manusia, tumbuhan, hewan dan sebagainya.

Tiap individu berkembang dinamis, perkembangan itu akan mempengaruhi beberapa aspek yakni: aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk anak SD, kurikulum tidak bisa membebani mereka untuk membuat suatu karya yang besar. Tuntutan keterampilan, lebih banyak terwujud dalam sikap hidup ilmiah: menyelesaikan suatu masalah sederhana dalam hidup, menggunakan konsep ilmu tertentu. Pada saatnya nanti, mereka tumbuh dewasa dan semakin kritis. Saat itulah karya nyata akan terwujud. Jadi, orientasi pendidikan dasar adalah membekali mereka dengan pokok-pokok pengetahuan dasar tertentu dan merangsang penerapan ilmu.

Kemdiknas mengidentifikasi bahwa selama ini, beban belajar siswa terlalu luas dan tidak fokus.Tetapi pengintegrasian IPA sebagaimana rancangan kurikulum (Bahan Uji Publik Kuriulum 2013, hal. 41), akan menimbulkan dampak negatif. Misalkan integrasi IPA ke dalam matematika, maka dampak yang timbul adalah: (1) materi belajar siswa jadi tidak terfokus: apakah belajar ilmu matematika atau belajar IPA; (2) menambah sulit materi pelajaran karena berusaha sekaligus memahami konsep dua ilmu berbeda yang sama sekali baru muncul ke hadapan anak.

Demikian juga bila IPA dintegrasikan ke Bahasa Indonesia akan menimbulkan dampak negatif seperti di atas. Skill bahasa ada  empat aspek: mendengar, menulis, berbicara, dan membaca. Tentu untuk mengembangkan keempat skill ini dalam bahasa bukan perkara mudah untuk anak. Apalagi, ada beberapa istilah yang khusus untuk IPA, karena istilah tersebut memiliki pengertian lain dalam Bahasa Indonesia.  Misalnyagaya, usaha, dan daya. Dalam hal ini, perbedaan domain kajian IPA dengan domain kajian Bahasa Indonesia akan membingungkan anak didik.

Jika ingin mengurangi beban belajar siswa (berkaitan dengan matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia), maka SK atau KD tiap bidang studi dikurangi. Jadi kurikulum 2013 dibuat, tetapi tidak boleh mengintegrasikan IPA. Dalam hal ini rancangan pemisahan IPA sejak kelas IV diterima.

Lalu, bagaimana pengintegrasian IPS ke Bahasa Indonesia? Penulis memiliki pandangan sendiri terkait mata pelajaran IPS di SD. Dengan pertimbangan tertentu, IPS bisa diintegrasikan ke dalam Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) menjadi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), tapi bukan ke dalam Bahasa Indonesia. Karena mata pelajaran IPS tersebut berada dalam rumpun yang sama (sosial) dan Pancasila sebagai ideologi negara, erat kaitannya dengan konteks sosio-budaya.

Domain IPS adalah fenomena kehidupan sosial dari manusia, meliputi: pola pergaulannya, nilai/norma budaya dan sejarahnya, mata pencaharian dan keadaan ekonominya. Fenomena sosial, entah dalam negeri maupun dari luar negeri,  erat kaitannya dengan nilai dan norma dalam aspek ekonomi, sejarah dan budaya manusia.

Sementara itu, ilmu kewarganegaraan berkaitan erat dengan ideologi dan ketatanegaraan. Ideologi negara erat kaitannya dengan konteks sosio-budaya dalam suatu bangsa. Pancasila sebagai ideologi negara, seharusnya melandasi perkembangan nilai dan norma kehidupan sosial. Jika fenomena sosial-budaya diadopsi tanpa dibentengi nilai-nilai ideologi bangsa, maka akan terjadi kepunahan identitas budaya bangsa. Bisa saja, motif kain songket ala NTT akan digeser indahnya rok mini ala Eropa.

Jadi, IPS cocok diintegrasikan ke PKn menjadi PPKn. Dalam pengintegrasian ini,  PPKn secara keseluruhan bernuansa pendidikan Pancasila.  Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) diatur antara pendidikan Pancasila, pengetahuan kewarganegaraan, dan pengetahuan sosial umum. Strategi pembelajarannya ditata sedemikian rupa agar mewujudkan kondisi penanaman nilai-nilai Pancasila, pembelajaran ilmu kewarganegaraan,atau pembelajaranilmu sosial umum. SK dan KD diurutkan, dengan SK/KD kajian tentang Pancasila muncul di bagian-bagian awal dan menjiwai seluruh mata pelajaran hasil integrasi ini.

Begitupun dengan pengintegrasian mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMP. Dalam Bahan Uji Publik Kurikulum 2013, tabel halaman 46 point (5) dinyatakan: TIK menjadi sarana pembelajaran pada semua mata pelajaran, tidak berdiri sendiri. Dengan kata lain, mata pelajaran TIK di SMP dihapus.Tetapi penggunaan teknologi dilakukan pada setiap pembelajaran.

Brinkman (1971) menyatakan bahwa teknologi adalah penerapan dari pengetahuan ilmiah kealaman (natural science).Jadi, teknologi bukan ilmu tetapi penerapan ilmu.Teknologi dianggap sebagai keahlian yang terkait dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Jadi, kebijakan penghapusan TIK didukung. Sebaliknya teknologi digunakan dalam semua pembelajaran, dalam arti guru menggunakan fasilitas teknologi dalam menjalankan pembelajaran. Walaupun ini amat sulit, khususnya teknologi pembelajaran yang membutuhkan listrik, karena suplay listrik yang belum memadai di seluruhIndonesia.

Berkaitan dengan penghapusan TIK maka pemerintah menata kembali fungsi guru TIK yang ada selama ini. Satu kemungkinan adalah mereka berkolaborasi dengan guru mata pelajaran lain dalam hal mengembangkan teknologi pembelajaran.

Penggabungan dan peniadaan satu ilmu di atas tentu sangat rumit untuk diimplementasikan bagi seorang guru dengan latar pendidikan yang berbeda. Kecuali gurunya seorang genius segenius para pembongkar-pasang kurikulum ini.

Di sini, pemerintah berkesan tergesa-gesa jika kurikulum 2013 harus berlaku pada tahun ini juga.Tantangan besar menjalankan kurikulum 2013, yang menurut pemerintah mengacu paradigma belajar abad XXI, yang dicirikan dengan informasi (mencari dan menemukan), komputasi (merumuskan dan menanya masalah)dan otomasi (berpikir analitis).Hambatannya adalah belajar mandiri harus di dukung fasilitas yang memadai, misalnya buku atau fasilitas akses internet. Bersambung

*Penulis: mahasiswa jurusan Matematika, Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja,Bali. Bekerja di STKIP St.Paulus Ruteng.

 

 

 





You must be logged in to post a comment Login