Lembata, Kemarin dan Hari Ini

SAYA teringat kembali cucuran keringat yang terus tertumpah di bumi Lembata ketika tahun 1980-an saat masih menjadi anak sekolah di Lewoleba – Lembata. Kondisi ini belum cukup berubah hingga tahun 2013 ini, setelah hampir 14 tahun Lembata pisah dari induknya Flores Timur.

Pada masa itu anak-anak sekolah dari Boto dan Puor yang bersekolah di Lewoleba, harus menempuh perjalanan sejauh 20-an kilo meter dengan berjalan kaki. Sudah ada jalan raya saat itu, tetapi kendaraan tidak ada. Hanya satu mobil hard top milik Dekenat Lembata yang saat itu lebih dikenal dengan sebutan Misi Lewoleba.

Jalan Lewoleba-Boto. (Foto: Kiriman Payong Pukan Martinus)

Berjalan kaki dari Boto dan Puor menuju Lewoleba sambil memikul bekal berupa beras, jagung titi dan bahan makanan lainnya dengan waktu tempu paling cepat empat jam. Berjalan dari Boto misalnya, harus menempuh jalan pintas dengan mendaki dan menurun yang cukup melelahkan.

Dari Boto, menurun ke Lamalewar, kemudian mendaki dan menurun menuju Bata, selanjutnya mendaki ke Riang Puo dan menurun ke Belang. Setelah tiba di Belang sedikit legah karena boleh berjalan di jalanan yang cukup rata.

Biasanya, anak sekolah hari Sabtu siang setelah selesai sekolah kembali  ke kampung dan pada Senin dini hari sudah harus kembali Lewoleba. Bagi anak sekolah yang sekolahnya pagi hari mereka sudah harus kembali ke Lewoleba hari Minggu petang sedangkan yang bersekolah siang hari baru berjalan kaki Senin dini hari sekitar pukul 05.00 wita.

Memang mengasyikkan kala itu. Walau berjalan kaki sambil memikul bekal dan harus berhenti dan beristirahat di beberapa tempat tertentu, canda guran terus bergemah sekedar untk menghilangkan kepenatan.

Itu masa lalu tahun 1980-an. Namun kenangan pahit masa lalu itu sepertinya muncul kembali saat ini. Jalan raya Lewoleba – Boto yang masuk daftar jalan Kabupaten sejauh 24 km itu dalam kondisi sangat memprihatinkan. Jika jalan raya sejauh 23 km hanya bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor paling lama sejam, namun perjalanan itu harus ditempuh paling cepat  dua jam.

Menjangku perjalanan Lewoleba – Boto dan seterusnya akan menuju Puor, Imulolong, Posiwatu dan ke Lamalera, kampung ikan paus itu pengendara harus ekstra hati-hati. Jalanan yang dalam kondisi parah apalagi pada musim hujan ini, lobang-lobang sepanjang jalan digenangi lumpur. Orang baru yang melintasi jalan ini di musim hujan akan dengan sangat mudah terperangkap dalam lobang-lobang penuh lumpur.

Jalan raya mulai dari Belang hingga Boto memang sungguh sangat parah. Beberapa ruas jalan memang tetap menjadi kolam coklat. Ada beberapa tempat yang memang lobang-lobang berdekatan sehingga Mantan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan olah Raga Lembata, Payong Pukan Martinus orang Boto ini mengistilahkan kembaran Tri Danau Kelimutu.

Menurutnya, kalau di Kelimutu ada tiga danau berwarna dengan warna berbeda, di ruas jalan Lewoleba Boto akan dijumpai banyak sekali kembaran tri dana Kelimutu di Ende. Memang beda, kalau danau Kelimutu  yang kini menjadi Tanam Nasional Kelimutu (TNK) dan digandrungi wisatawan baik manca negara maupun domestik, sedangkan kembaran Kelimutu di jalanan di Lembata justru dijauhi, dihindari dan ditimbun maasyarakat pengguna jalan.

Sedih memang, namun kondisi jalur jalan menuju kantong ekonomi di Barat dan Selatan Lembata ini belum diperhatikan dengan baik. Padahal ruas jalan ini justru akan menuju desa wisata terkenal hingga ke manca negara yakni Lamalera yang hingga saat ini masih memelihara dengan rapi tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional.

Pemerintah Kabupaten Lembata mulai dari masa  kepemimpinan Andreas Duli Manuk hingga memasuki tahun kedua kepemimpinan Yentji Sunur dan Viktor Mado Watun (Lembata Baru) masih tetap berwajah muram.

Bupati Yentji Sunur bertekad untuk menjadikan Pariwisata sebagai lokomotif pembangunan di Lembata, karena pariwisata diyakininya bakal menggerakkan sektor-sektor lainnya.   Di Boto misalnya ada obyek wisata air panas yang oleh masyarakat setempat menamakan tempat itu Wai Kating. Air panas dengan aroma belerang itu mampu menyembuhkan berbagai penyakit kulit.

Masyarakat di wilayah Selatan dan Barat Lembata memang mengandalkan jalur utama ini. Aneka komoditi di wilayah ini yang terus berkembang pesat justru menjadi salah satu gudang komoditi untuk Lembata. Ada kopi, kemiri, kopra, kakao, vanili dan aneka tanaman komoditi yang terus dikembangkan masyarakat setempat.

Mereka tentu sangat berharap, pemerintah membangun jalan raya ini agar mereka bisa memiliki posisi tawar yang tinggi untuk menentukan harga komiditi mereka dengan para penimbang yang sering bermain harga hanya dengan alasan besarnya biaya transportasi.

Mereka kini menggantungkan harapan yang besar pada 25 anggota DPRD Lembata dan tentu juga lebih kepada pemerintah sebagai pemilik dan pengguna anggaran. (Bonne Pukan)

One Response to Lembata, Kemarin dan Hari Ini

You must be logged in to post a comment Login