Quantcast

KOLOM MINGGUAN

“Hati Adalah Rumah Demokrasi”

Fidel Hardjo

Oleh : Fidel Hardjo

“The human heart is the first home of democracy” (Terry Tempest Williams). Pernyataan “panecea politik” (obat mujarab) Tempest ini disitir oleh Parker J. Palmer dalam bukunya “The Politics of the Broken Hearted” (2005). Hati adalah rumah demokrasi. Inilah “gagasan segar” yang bisa menambah “gizi” menu  pilkada kita.

“Panecea politik” ini sedang memeluk kerisauhan kita. Bisakah kelima paket kontestan pilgub NTT mendaku logika hati politik “winning with heart, losing with heart” (menang dengan hati, kalah dengan hati)?Apa kontestan punya beranda hati?

Kerisauhan ini bukan sekadar pesimisme belaka. Tetapi berangkat dari pergulatan kerisauhan kita selama ini. Para kontestan pilgub dengan team suksesnya saling membanting “kartu joker”(sisi negatif) konstestan lain. Juga kelima paket pilgub ini “mengandang-ngandangkan” massa berdasarkan bendera suku, agama,dan daerah.

Selama pilkada warga dibelah-belah berdasarkan blusukan sumringah para paket kontestan pilgub. Praktik belah-belah ini tidak lebih dari hasil blusukan dan kedekatan emosional. Bukan karena, gagasan dan program yang diusung para kontestan pilgub. Inilah sayat kerisauhan yang mau tidak mau: terima apa adanya.

Kerumunan yang dikandang selama ini akan tiba saatnya meminjam istilah fase politik Parker J. Palmer yaitu “the politics of the broken hearted”. Massa terbelah-belah saat pilkada dengan menggedong sebuah harapan menang tapi faktanya kalah, maka perkara hati terkacau “broken into pieces” siap menggelinding ke publik.

“Broken into pieces” bisa berupa kerumunan yang mencari-cari kesalahan kemenangan pihak menang lalu mengacaukan situasi publik. Tujuannya untuk menggagalkan kemenangan pihak lawan dan kalau bisa kemenangan itu dianulir.  Situasi inilah yang diwanti-wanti oleh Palmer akan bakal terjadi pasca pesta pilkada.

Alasannya yaitu karena konsep demokrasi yang bergelantung di tubuh (the body of politics) kita hanya perkara apa yang ada di kepala kita. Padahal kalau membangun politik demokrasi yang sesungguhnya, maka ia harus mulai dari hati kita (the soul of politics). Politik logika hati ini tercermin dalam gagasannya yang betul-betul dari hati.

Politik dari hati ini tidak muncul dengan alasan mau menang saja. Tidak juga karena menghafal kemauan sesaat publik atau karena ada isu sosial yang hangat lalu menghadirkan sebuah solusi yang bekaca-kaca untuk menjemput kemauan massa. Tapi, harus lahir dari sebuah kebeningan hati. Kalah-menang, “isi politik” tetap hidup.

Bila perlu isi politik yang pernah diusung itu dibiar-pakai oleh kontestan yang keluar sebagai pemenang. Bahkan inisiatip mengabdi bersama mewujudkan isi politik itu. Lalu, pada tingkat  “grassroot” (baca: kerumunan)  logika politik hati lebih diisyarat oleh ketulusan hati menerima kemenangan pihak yang lawan secara satria elegan.

Sehingga, jika kita menang dengan hati berbunga-bunga maka saat kita kalah pun hati tetap berbunga-bunga (winning with heart, losing with heart). Bukan sebaliknya. Kalah-menang tanpa hati atau jika menang saja, saat kalah hati jadi api. Api yang siap membakar siapa saja. Bahkan “membakar” hukum dan properti publik.

Tentu cara begini tidak kita inginkan. Tetapi selama para kontestan pilgub sekarang tidak memiliki beranda logika politik hati maka bukan tidak mungkin ada keburutalan politik post pilkada. Kebrutalan seperti ini biasanya kesulut oleh ketidaksiapan untuk kalah dan massa kerumunan yang digarap oleh tensi relasi emosional-parokial figur.

Bayangkan saja. Baru babak pendaftaran keenam paket ini meski ada satu paket Beni Bosu- Mel Adoe yang tergelincir setelah terganjal dengan aturan KPU NTT (PK, 31/1). Agak sulit dibayangkan kerepotan galau paket pilgub ini menenangkan bathinnya sendiri. Apalagi, menenangkan bathin massa. Gara-gara tak lolos seleksi.

Suara protes pun saling melayang. KPU NTT mengatakan ketidaklolosan paket Beni Bosu- Mel Adoe sangat “berdasar”. Sementara dari pihak pengusung paket ini menghujam balik KPU bahwa ketidaklolosannya “sangat tidak berdasar” dan ini sentimen politik (PK,1/2). Ini baru starting point. Belum ke tahap yang mendebarkan.

Oleh karena itu, meskipun pengandangan politik di NTT yang sulit tercerabut dan sudah terjadi serta selalu “didaur ulang” dalam event pilkada daerah NTT selama ini, maka kita perlu mengedepankan politik hati: “winning with heart, losing with heart”.

Pertama, belajar untuk menghargai kemenangan (maaf bukan kekalahan). Persoalan selama ini adalah ketika orang menang tidak pernah membuka rahasia kemenangan meskipun hasil kemenangan itu yang nota bene lewat kecurangan. Kita berharap saat kalah sikap yang sama bisa bersemi di hati meski, ada luka-luka.

Mungkin upaya yang konyol-konyolan jika sudah menang terus bongkar-bongkar rahasia kejahatan di balik kemenangan. Ya betul, itu konyol. Tetapi kenapa aksi bongkar-bongkar berlaku hanya saat situasi kalah saja? Malah, ini dibenarkan. Di sinilah poinnya “balance-nya”. Intinya menang-kalah terima itu dengan dada lapang.

Saya yakin baik kerumunan maupun calon pilgub jika bisa berdiri tegak sambil menggdendong dua perasaan kalah-menang ini di dadanya, maka tidak akan mungkin terjadi kekacauan politik berakibat fatal. Merasakan menang di saat kalah dan selalu “merasa kalah” (baca:rendah hati) di saat keluar sebagai pemenang utuh.

Memang ini moment terberat. Karena moment ini sebagai moment “bersih-bersih pecahan botol” (pick up some pieces) setelah kemabukan pesta 1001  malam. Ada kemungkinan “tertusuk” pecahan botol itu. Jika tidak bersih pecahan itu akan menimbulkan kekotoran dan bisa jadi menusuk siapa saja  di hari-hari setelah pesta.

Kedua,  adalah sebuah “keajaiban politik” jika saja nanti, ada team sukses atau pilgub yang kalah dengan gentleman mengucap proficiat kepada pilgub yang menang. Perilaku satria seperti ini adalah bagian penting mengajarkan politik baru kepada  generasi baru. Menang-kalah biasa. Kita wariskan pembelajaran politik itu.

Kita berharap ada team sukses atau cagub-cawagub yang keren-keren sekarang saling berucap profisiat dan berani angkat topi kepada pihak menang pasca pilgub. Inilah roh dari politik hati ini. Di mana hati bisa meluluh ubun yang panas, seperti filsafat hati Louis Pascal bahwa “hati selalu ada alasan yang tidak dimengerti akal”.

Ketiga, tidak lama lagi pilkada pilgub sampai di garis final. Pengadilan kemenangan dan kekalahan pilgub sebentar lagi hadir cepat di depan kelopak mata kita. Itu berarti, kerumunan massa dan ke enam paket konstestan pilgub siap menadah hasil panen.Team sukses dan cagub-cawagub kalah diharapkan menjadi duta perdamain.

Kita bisa winning with heart, kalah pun “harus” losing with heart! Meski beranda politik NTT semakin “panas” tetapi mari kita renung sejenak kata bijak ini  “The human heart is the first home of democracy”. Semoga hati kita adalah rumah pertama demokrasi NTT karena kita sulit prediksi  “too soon to be loser or winner”!

Penulis Anggota FAN NTT, tinggal di Jakarta.





One Response to "“Hati Adalah Rumah Demokrasi”"

You must be logged in to post a comment Login