Gubernur : Anggur Merah Bukan Anggaran Bansos

LABUAN BAJO, FBC - Gubernur  NTT  Drs. Frans Lebu Raya menegaskan, sumber pembiayaan program anggaran untuk rakyat menuju sejahtera atau yang lebih dikenal dengan singkatan Anggur Merah yang   telah digulirkan ke desa-desa di seluruh wilayah Provinsi NTT merupakan dana hibah dan bukan dana yang berasal dari dana Bantuan Sosial atau Bansos yang beberapa tahun terakhir ini dipermasalahkan oleh banyak kalangan.

Gubernur  Lebu Raya mengatakan hal itu ketika berdialog  dengan masyarakat  Kampung Roe, Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu malam (23/2). Dialog yang disiarkan secara langsung Radio Komodo FM itu, Gubernur Lebu Raya menyatakan bahwa biaya untuk kegiatan program Anggur Merah berasal dari program pengetatan anggaran dari banyak pos anggaran birokrasi pemerintahan yang selama ini kurang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Anggaran untuk program Anggur Merah dialokasikan dari sumber belanja birokasi seperti biaya untuk perjalanan dinas, rapat-rapat dan belanja pegawai lainnya.

Dialog Gubernur dengan masyarakat kampung Roe, Kecamatan Mbeliling Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu malam (23/2). (Foto : FBC/ Kornelius Rahalaka)

“Jadi, sumber dana untuk program Anggur Merah merupakan hasil pengetatan anggaran dan dana itu merupakan dana hibah yang diberikan secara langsung kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, dana Anggur Merah bukan dari dana Bansos. Jika ada orang yang mengatakan bahwa dana Anggur Merah adalah dana Bansos, itu salah,” tandasnya.

Gubernur menjelaskan, program Anggur Merah lahir dari sebuah kesadaran etis bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung. Program Anggur Merah sebut Gubernur, merupakan implementasi nyata dari misi dan ideologi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang selalu berpihak pada kepentingan rakyat sederhana.

Menurut Gubernur, anggaran untuk pembangunan NTT setiap tahun tergolong kecil karena selama ini anggaran hanya berkisar sekitar 1,2 Triliun. Dana tersebut sebut dia, harus dibagikan untuk pembangunan di 20 kabupaten/kota di seluruh NTT.

Meskipun anggaran yang kecil namun, pemerintah provinsi telah berusaha untuk memaksimalkan anggaran itu untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Pemerintah provinsi telah melakukan kajian yang mendalam terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat NTT.

Salah satu program konkrit yang berpihak pada kepentingan rakyat yakni Anggur Merah. Selain program Anggur Merah, program Desa Mandiri Anggur Merah, program desa wisata, Gong Belajar dan beberapa program lainnya akan terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.

Lebu Raya mengaku program-program tersebut sejauh ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat karena menjawabi kebutuhan dasar rakyat NTT.

Ia mengakui, dari kajian tim ahli, dana untuk program Anggur Merah masih sebesar Rp. 250.000.000/desa. Dana tersebut akan bergulir di desa dan menjadi milik desa. Dan bukan untuk dikembalikan kepada negara atau pemerintah.

Dikatakannya, program tersebut baru berjalan dua tahun dan belum bisa mengakomodir seluruh desa di NTT karena kekurangan dana. Namun, ia memperkirakan seluruh desa di NTT yang berjumlah lebih dari 3.000 desa itu akan mendapatkan program Anggur Merah pada tahun 2017.

Desa Wisata dan Sail Komodo

Selain program Anggur Merah, program desa wisata juga merupakan salah satu program yang sedang dan akan terus dikembangkan. Dalam tahun ini desa wisata akan bertambah menjadi 100 desa. Program strategis lain yang sudah dan terus akan dikembangkan yakni program dibidang kesehatan terutrama untuk menekan angka kematian dan kesakitan ibu dan anak.

“Sebelum saya menjadi gubernur, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Karena itu, kita melakukan berbagai terobosan seperti program revolusi kesehatan ibu dan anak (KIA) sehingga mampu menekan angka kematian ibu dan anak,”tambah Lebu Raya

Sementara itu, terkait  Sail Komodo 2013, Lebu Raya menyatakan, sail Komodo merupakan inisiatif pihaknya jauh sebelum wacana adanya lomba tujuh keajaiban  dunia yang mana Komodo kini berhasil masuk menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sail Komodo menurut dia, membawa banyak manfaat bagi masyarakat NTT.

Disebutkan, tujuan sail Komodo sebenarnya untuk mempercepat pembangunan di NTT. Karena itu kegiatan itu mesti dilaksanakan dengan baik dan sukses bukan hanya pada saat pelaksanaan tetapi yang paling penting adalah apa yang akan dilakukan ke depan.

Pemerintah pusat sebut dia, telah mengalokasikan dana yang besar untuk mempercepat pembangunan di wilayah NTT seperti pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, air minum bersih dan lain-lain.

“Tujuan sail ini sebenarnya untuk mempercepat pembangunan NTT. Karena itu, kita mesti menangkap peluang ini dengan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan sail seperti pangan lokal, transportasi, souvenir dan lain-lain,” ujarnya, seraya meminta para pihak seperti pengurus hotel dan restoran, para agen perjalanan dan pelaku pariwisata lainnya agar bersama-sama menyukseskan sail Komodo tersebut. (Kornelius Rahalaka)

2 Responses to Gubernur : Anggur Merah Bukan Anggaran Bansos

You must be logged in to post a comment Login