Quantcast

Cerita Rakyat Flores Mulai Diapresiasi

Ratusan penonton padati aula Unflor untuk menyaksikan pementasan drama ceritra rakyat se Flores. (Foto : Nando Watu/ FBC)

ENDE, FBC- Di tengah ramainya ceritra rakyat yang dijadikan film ataupun drama secara nasional, ceritra rakyat dari Flores pun tak ketinggalan untuk mulai dipentaskan. Memang, kesannya sangat terlambat karena cerita rakyat seperti Sangkuriang, Legenda Danau Toba, Nyi Roro Kidul, Jaka Tingkir, Abunawas, yang semuanya dari Jawa dan Sumatera sudah duluan popular.

Bertempat di Aula kampus 1 Universitas Flores (Unflor), Ende-Flores, beberapa waktu lalu,  tepatnya  27 Januari 2013 hingga 3 Februari 2013, berlangsung pemantasan drama aneka cerita rakyat dari setiap kabupaten sedaratan Flores. Pementasan ini menyedot perhatian warga Ende, yang setiap malam selama sepekan datang menyaksikan pementasan.

“Kami menyajikan pementasan drama yang diambil dari cerita rakyat daerah di seluruh Flores. Cerita rakyat itu dikumpul kemudian ditulis,  lalu hasil tulisan itu dibuat dalam bentuk naskah drama yang akhirnya dipentaskan,” ungkap Maria Marieta Bali Larasati, dosen Unflor, kepada FBC, Jumat malam (1/2/2013).

Menurut Marieta, Flores memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa termasuk ceritra rakyat.  Dikatakannya, khazanah budaya lokal yang mengandung nilai dan petuah tidak hanya diwariskan dalam turur dan cerita tapi juga diangkat dan  dilestrikan dalam tulisan. “Meghayati dan menjiwainya dalam sebuah pentasan drama merupakan penghidupan kembali nilai-nilai lahur dari budaya,” jelasnya.

Feliks Pandai salah satu staf pengajar Unflor, memberikan apresiasi atas kegiatan pementasan drama tersebut. Menurutnya tayangan televisi tentang ceritra rakyat yang selama ini dipertontonkan, tak kalah menariknya dengan ceritra rakyat yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Flores. Namun Feliks menyangkan masih kurang semangat warga  untuk melestarikan budaya daerah.

Pementasan Drama ceritra rakyat dari Nagekeo. (Foto : Nando Watu/FBC)

“Saya melihat. sekitar tahun 80an ada semangat untuk melestarikan budaya daerah dengan aneka pementasan drama. Namun sejak tahun 90an hingga saat ini minat dan semangat untuk itu terlihat kendur dan kian menurun,” ungkapnya

Dengan kegiatan pementasan yang dilakukan Unflor ini, menurut Feliks menjadi momen refleksi kembali untuk berjuang bersama melestarikan budaya daerah.

Sebagaimana disaksikan FBC, hampir semua kabupaten di Flores terwakili dalam ceritra rakyat yang dipentaskan mahasiswa Unflor dalam sepekan itu. Dari Maumere Sikka dipentaskan Drama Teka Iku,  Detukeli Lio-Ende dengan   drama pahlawan lokal Marilonga. Cerita rakyat Nagekeo  Gene Kune dan Poma Ito juga dipentaskan.

Tak ketinggalan  ceritra rakyat Watu Ana, Ata Robo dari  Wolotopo Lio-Ende,  Kua siga Wunga dari Bajawa,  Wela Runus dari Manggarai Wela Runus dan ceritra dari Ende seputar  Meja, Ia dan Wongge.  (Nando Watu)





3 Responses to "Cerita Rakyat Flores Mulai Diapresiasi"

You must be logged in to post a comment Login