Quantcast

IRONI PARIWISATA NTT

Fidel Hardjo

Oleh : Fidel Hardjo

Natal kali ini betul-betul terasa unik. Bagiku uniknya, bukan terletak pada ceremonial natal. Bukan pula karena dekorasi kandang bayi Yesus berbaring. Katanya Yesus lahir di kandang hewan. Malah lampu kelap-kelip canggih keluaran terbaru bergelantungan di kandang itu. Ini dibilang kandang hina-dina atau hotel berbintang!

Tinggalkan paradoks natal itu. Toh, ini sudah gejala natal di mana-mana. Satu hal yang membuat unik yaitu aku mendapat ucapan selamat natal dari dua orang hebat. Mereka adalah Mr. Thomas Ly dan Ms. Nina. Kedua-duanya bergerak di bidang kesehatan, promosi pariwisata Flores, dan pemberdayaan  eco-agro wisata Flores.

Keduanya adalah orang hebat. Hebat karena ketika kita sibuk memikirkan diri sendiri, mereka justru mengurus orang lain. Termasuk mengurus kita yang sibuk memikir diri-sendiri ini. Lalu, mereka juga bukan orang kita. Mereka bule yang datang jauh-jauh dari Jerman dan Belanda mengagum – merawat objek wisata kita.

Bule saja perhatiannya begini. Bagaimana dengan kita? Pertanyaan ini wajib diajukan. Tatkala, kita nyaris menjadi penonton saja di tengah perjuangan mereka. Kita seakan-akan apatis. Padahal, kita sudah punya aset wisata dan ada pekerja rakyat yang dikenal “pegawai negeri” untuk mengurusi “ini-itu” tak berharap banyak.

Jujur saja. Saya belum kenal kedua orang hebat ini sebelumnya secara intens. Saya biasa menengok website mereka dengan project-project brilian. Mulai dari mengolah bank sampah (waste is money), promosi transportasi udara, health care (dengue, rabies), sampai kolaborasi aktif dengan rumah sakit lokal untuk pencegahan AIDS.

Project mereka ini sudah berjalan. Intinya, mereka ingin membangun kesadaran masyarakat NTT bahwa obyek wisata juga bisa membangun ekonomi rakyat. Asalkan, kita bersedia untuk itu. Bali sudah membuktikan pariwisata juga menjadi sumber ekonomi. Flores pun bisa. Selain itu, mereka meyakinkan komunitas international bahwa pariwisata Flores layak dan direkomendasikan untuk dikunjungi.

Hanya, setelah kami intens surat-menyurat lewat surat elektronik, saya begitu shok. Ketika kedua-duanya mencurhat ketidaksinergisan dan ketidakooperatifan baik warga maupun para pemimpin daerah kita. Termasuk membuang sampah sembarangan. Lebih celaka. Membuang sampah plastik di laut merusak wisata laut.

Padahal, kebersihan pantai, laut, dan sekitar kawasan wisata membuat objek wisata itu indah, bersih, dan sehat. Kesadaran ini yang belum terlihat feel-nya di masyarakat kita. Sebagaimana kita ketahui, Sail Komodo 2013 sudah tinggal separuh waktu lagi menuju hari puncak. Sementara, persiapan belum terlihat geliat.

Lebih mencengangkan adalah ketika Mr. Thomas Ly mengajukan proposal project promosi wisata Flores ke pemda lokal dan tembusan pemprov NTT, proposalnya ditolak mentah-mentah (soft copy penolakan itu saya simpan). Tujuan proposal project ini yaitu mempromosikan website online high-tech dengan produksi film, video, foto, dan informasi wisata NTT ke link-link jalur guide wisata internasional.

Sejenak aku kecewa. Kecewa karena peluang ini tidak terbaca oleh pemda dan pemrov NTT. Padahal, kita masih ingat Sail Bunaken 2009 termasuk even sail internasional yang paling sukses. Karena, pemimpin daerah Bunaken membangun jejaring promosi wisata ke komunitas international habis-habisan. Tidak hitung duit.

Aku pikir Mr. Thomas merasa patah arang dan kecewa dengan penolakan proposal projectnya oleh pemerintah NTT. Ternyata tidak. Inilah ciri-ciri orang hebat. Meskipun ia ditolak, tetapi tidak merasa kecewa. Padahal, tujuan project ini meringankan pekerjaan pemda untuk mempromosikan wisata NTT seluas-luasnya.

Justru, aku yang merasa sewot-kecewa. Kekecewaanku bukan semata-mata karena project Mr. Thomas ditolak tetapi alasan penolakan. Masalah dana. Dana tidak ada. Saya lebih kecewa ketika membaca berita di koran lokal, anggaran pemerintah NTT tahun 2013 lebih besar untuk membiayai urus makan-minum, jalan dinas, dan pengeluaran staf. Paling kecewa lagi. Dengar berita uringan perjalanan fiktif pejabat.

Sungguh terlalu. Kalau perjalanan fiktif ada duit, tetapi untuk urusan mendatangkan uang daerah selalu mentok di alasan dana. Apalagi, surat penolakan itu dibuat oleh kepala dinas kebudayaan dan pariwisata NTT dengan tembusan gubernur-wagub dan sekretaris daerah NTT. Alasan penolakan tertulis bahwa “tidak ada anggaran dana”. Meski, ada hiburan di akhir surat itu kalau bisa project itu ditunda tahun 2013.

Saya berpikir agak lain. Dengan tidak kecewanya Mr. Thomas, sebenarnya beliau ingin menantang pemerintah NTT untuk bisa berbuat lebih dalam kaitan dengan mempromosikan pariwisata NTT. Selain, promosi itu berkaitan dengan Sail Komodo di depan mata (short term project) tetapi project jangka panjang (long term project).

Karena itu berlaku prinsip, “see to believe” (melihat baru percaya). Ini bukan pesimisme. Tetapi bentuk radikal optimisme di tengah kegalauan penangkapan koruptor di daerah seperti menghitung biji kelereng. Sekaligus, menguji alasan enggan bekerja sama dengan pihak yang profesional untuk sebuah pekerjaan berat.

Sekali lagi tulisan saya ini bukan hasil pesan sponsor. Bukan karena ada kerja sama kongkalikong dengan Mr. Thomas atau Ms. Nina. Betul-betul hasil pergulatan bathin pribadiku dengan nasib pariwisata NTT yang selalu membanggakan dan mempesonakan tetapi kita sendiri seperti tikus lapar, yang bingung mau makan dari mana padi yang ada di lumbung itu. Karena, terlalu banyak bingung, ia mati sendiri.

Dalam surat diskusi terakhir, Mr. Thomas yang juga CEO Mediscon Worlwide berkantor di Jerman ini menulis sebuah note yang menurut saya patut untuk dicamkam oleh siapa saja, baik warga  maupun para pejabat teras NTT mulai dari pusat provinsi sampai ke kabupaten-kabupaten. Tulisan ini adalah surat terakhir dari Mr. Thomas sekalian mengucapkan Selamat Natal kepada saya. Ini hadiah natalku.

“The target in our promotional project we offered, is in creating a sustainable, reliable, positive motivating and long term idea where local population and local culture meets tourists in a safe way. Local population has to be involved in these projects to ensure problems like for example the current coral bombing in Flores.

For example, when looking at major travel forum at internet, you find negative threats in lack of information about flights and airports, also lack of information in healthcare on Flores. That’s the reason, we started some basic principles projects already in the past.  We better meet at eye level and not “the rich tourist meet the poor Florenese”.

Intinya, kedua orang hebat di atas Mr. Thomas dan Ms. Nina bukan curhat cengeng. Karena mereka bukan curhat  tentang nasib negeri mereka. Apalagi, curhat kegalauan tentang dirinya.Tetapi mereka justru galau dengan nasib kampung halaman kita. Bagaimana memajukan daerah kita agar layak dipandang, dinikmati, dan “bernilai jual” di komunitas internasional, demi urusan perut-perut kita-kita juga.

Curhat Mr. Thomas dan Ms. Nina hanya kisah nyeleneh (ironi) pariwisata kita. Maksud tuan hendak memeluk gunung, tapi tangan tak sampai.  Kalau tangan tak sampai, apa masih ngotot lho.  Ada banyak orang di luar sana yang siap ulur tangan.

“Tangan” itu bisa saja NGO lokal, yang juga banting-bantingan tenaga untuk perbaikan dan pemberdayaan warga. Tapi, mereka diabaikan dan dilupakan. Apes!.

Penulis, Anggota FAN NTT, peminat Masalah Sosial Budaya, tinggal di Jakarta





2 Responses to "IRONI PARIWISATA NTT"

You must be logged in to post a comment Login