Quantcast

Peringatan Hari Anti Korupsi Dunia

ALDIRAS Pelopori Gerakan Anti Korupsi Lembata

Kali ini peringatan Hari Anti Korupsi se-Dunia di Lembata agak diluar kebiasaan.  Sebuah kelompok yang menamakan diri Aliansi Keadilan dan Kebenaran Anti Kekerasan (Aldiras)  menggelar pertemuan besar untuk menggalang dukungan.

Aksi itu berwujud penandatanganan kesepakatan bersama pencegahan dan pemberantasan korupsi. Kegiatan ini berlangsung di Taman Kota Lewoleba “Swaolsa Titen”, kelurahan Lewoleba Utara, kecamatan Nubatukan, kabupaten Lembata, Minggu, 9 Desember 2012, jam 15.00 sore.

Acara Hari Anti Korupsi yang di Gelar Aldiras, di taman hiburan rakyat Lewoleba (Foto : Yogi/FBC)

Korupsi merupakan penyakit sosial yang merugikan masyarakat banyak.“Korupsi adalah benalu yang tidak tahu malu.” Hal ini, dikatakan, Benediktus Asan, saat memandu acara pembukaan kegiatan. Sejatinya, mengajak semua yang hadir agar meningkatkan budaya rasa malu, bila mengambil bukan dari hak. Mengambil bukan hak, diibaratkan sebagai benalu yang menggantungkan hidupnya dengan mencuri makanan dari tanaman tumpanganya. Berlagak bangga congkak di atas penderitaan orang lain. Bagi Aldiras dan semua yang berkomitmen, bersepakat : “Hanya ada satu kata Lawan Koruptor”.

Tarsisius Hingan Bahir, S.Sos selaku ketua Divisi Keadilan dan Kebenaran Anti Kekerasan dalam membawakan laporan kegiatan menekankan bahwa penetapan tanggal 9 Desember sebagai Hari Anti Korupsi Sedunia dikarenakan pada tanggal tersebut, negara-negara di dunia telah menyepakati lahirnya sebuah United Nations Conventions Against Corruption (UNCAC) yakni sebuah Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi dengan tujuan untuk memerangi dan memberantas praktek korupsi yang mendunia. Menurut data Political Economic and Risk Concultancy (PERC), Indonesia sendiri justeru menempati urutan pertama sebagai negara terkorup di Asia. Jika dilihat dalam kenyataan sehari-hari korupsi hampir terjadi di setiap tingkatan aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari ijin mendirikan bangunan, proyek pengadaan di instansi pemerintah sampai proses penegakan hukum, tegas Bahir.

Tujuan diadakannya kegiatan Penandatanganan Kesepakatan Bersama Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Di Lembata oleh Aldiras, sebagaimana dilaporkan Bahir adalah:
Membangun sistem integritas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Lembata untuk anti korupsi.

Piter Bala Wukaka, SH, Koordinator Umum Aldiras, dalam sambutannya mengajak semua komponen masyarakat untuk belajar pada negeri Cina, yang sangat komit memberantas korupsi. Selain memberikan hukuman yang sangat berat, tetapi juga memberikan sangsi social yang sangat memalukan bagi koruptor, dengan menjahui mereka dari kehidupan social seolah penyakit menular. Presiden Cina, Tong Liong, di awal pidato politik pelantikannya menjadi presiden, dengan tegas ia mengatakan : “Beri aku 100 peti mati, 99 buah akan saya gunakan untuk mengisi jasad para koruptor dan peti ke 100 akan saya siapkan untuk mengisi jasad saya kalau saya korupsi”, ungkap Piter mengutip pernyataan presiden Cina.

Di Lembata, banyak kasus korupsi yang telah dilaporkan masyarakat, ada juga dari hasil temuan Badan Pemerikas Keuangan (BPK), maupun hasil temuan awal lainnya yang telah dipublikasikan melalui berbagai media masa. Kepada pihak Kepolisian, Kejaksaan dan Pengailan Negeri Lewoleba, Piter Bala Wukak meminta agar lebih serius menanganinya hingga tuntas. Sementara kepada wakil bupati Lembata, Viktor Mado Watun, SH diminta agar segera menonjobkan para pejabat yang terindikasi terlilit kasus korupsi.

Kegiatan Penandatanganan Kesepakatan Bersama Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Di Lembata dirangkai dalam acara pembukaan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Laporan Panitia, dalam hal ini Divisi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, Tarsisius Hingan Bahir, SW,Sos, Pembacaan Puisi “Tuan Kota”yang dibawahkan langsung oleh penciptanya sendiri Alfian Beraf dan Sambutan Koordinator Aldiras, Petrus Bala Wukak, SH.

Masuk acara inti Penandatanganan Kesepakatan Bersama Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Di Lembata, kesebelas perwakilan dipanggil naik keatas panggung menyatakan dengan lantang komitmen untuk memerangi korupsi di Lembata, sebelum penandatanganan naskah komitmen bersama. Selanjutnya, setelah penandatanganan Kesepakatan Bersama, setiap perwakilan diberi kesempatan untuk berpidato paling lama 5 menit untuk mengurai kiat memerangi korupsi di Lembata.

Bagi Geradi Tukan, dalam hal ini mewakili orang muda, menyatakan kalau praktek korupsi berawal mula dari masa-masa sekolah. Anak-anak sekolah yang setiap kali menerima keuangan baik dari orang tua maupun dari orang lain, melakukan pembelanjaan tanpa catatan dan laporan balik kepada orang tua atau pemberi uang adalah peri laku korupsi yang tidak sedang disadari.

“Mestinya sebagai orang muda, dari sekarang, semasa belajar harus bersikap tertib dan disiplin dalam penggunaan keuangan yang diberikan orang tua. Ketika memasuki masa kerja, orang muda sudah terbiasa mengatur keuangannya. Karakter seseorang sudah terbangun sejak dari masa kecil dan dari keluarga,” tutur Geradi.

Elemen Masyarakat Lembata yang akan menandatangani Komitmen Pecegahan dan Pemberantasan Korupsi Lembata, tampak dalam gambar, Wakil Bupati Lembata, Kapolres Lembata dan Bediona Philipus salah satu anggota DPRD Lembata. (Foto : Yogi/FBC)

Semua perwakilan bertekad, membasmi habis praktek korupsi di Lembata, bermula dari diri sendiri. Korupsi tidak semata menyangkut persoalan mencuri uang, tetapi bermakna luas. Keterlambatan datang ke kantor dan pulang duluan atau tidak disiplin waktu dalam bekerja di kantor adalah korupsi. Hal ini disampaikan wakil bupati Viktor Mado Watun dalam sambutanmya, menutup kegiatan Penandatanganan Kesepakatan Bersama Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Di Lembata. Untuk itu, beliau mengharapkan agar ke depan semua orang harus lebih disiplin dalam melaksanakan segala tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan, agar dapat terhindar dari praktek-praktek korupsi.

“Hukuman terhadap para PNS Lembata yang dijemur sejam di depan kantor bupati Lembata karena terlambat datang ke kantor beberapa waktu lalu merupakan contoh tindakan pencegahan terhadap korupsi di Lembata,” ungkap Viktor mengenang.

Sesungguhnya, ke-11 (Sebelas) perwakilan yang menandatangani Kesepakatan Bersama Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Di Lembata beragam kata tetapi hanya punya satu tekat, “perangi Korupsi di tanah Lepan Batan – Lembata”. Sebelas perwakilan yang membangun komitmen memerangi korupsi, mulai dari pemerintah dalam hal ini wakil bupati Lembata yang hadir, lembaga DPRD Kabupaten Lembata Bediona Philipus yang berkesempatan hadir, pihak Kejaksaan Negeri Lewoleba, Pengadilan Negeri Lewoleba, Kepolisia Resort Lembata, Tokoh Perintis Otonomi Lembata Petrus Gute Betekeneng, Tokoh Perempuan, Tokoh Muda, Tokoh-tokoh masyarakat, Tokoh Pendidik dan Tokoh-tokoh agama. Harapan bersama, kalau suatu saat Lembata dapat bebas dari penyakit akut, korupsi.

Kegiatan Penandatanganan Kesepakatan Bersama Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Di Lembata yang berlangsung 3 jam, dari jam 15.00 sampai dengan jam 18.00, dihadiri ratusan undangan dan simpatisan gerakan Anti Korupsi di Lembata, termasuk anak-anak sekolah. Sayangnya, bupati Yance Sunur dan Pimpinan DPRD Kabupaten Lembata Yohanes de Rozari (Ketua), Hyasintus Tibang Burin (Wakil Ketua 1) dan Yoseph Meran Lagaor (Wakil Ketua 2) sendiri tidak dapat hadir kalau mereka sedang ada di Lembata. (Lukas Narek)

You must be logged in to post a comment Login