Festival Budaya Flores dan Lembata

Gereja Berperan atas Lunturnya Nilai Budaya Lokal

Ende, FBC- Pendekatan rohaniawan dalam menyiarkan agama Nasrani tak selamanya tepat. Gereja Katholik malah ikut merusak nilai-nilai budaya lokal. Hal itu terutama terjadi setelah berlakunya konsili Vatikan kedua.

Mereka menganggap sesembahan kepada arwah leluhur yang ada di batu-batu, pohon besar atau kuburan sebagai praktik-praktik menyembah berhala. Nilai-nilai local pun luntur, setidaknya ini nampak dalam ungkapan extra ecclesiam nula salus yang menganggap bahwa di luar gereja tak ada keselamatan.

Seiring perkembangan dalam tubuh gereja Katholik, munculah teologi modern yang sekarang ini justru mengakui kebenaran tradisi budaya lokal. Praktik-praktik ritus budaya diatas dipandang sebagai simbol yang membuktikan bahwa masyarakat adat yakin akan hadirnya Yang Mahatinggi.”

Rm. Very Dhae, Pr, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral Ende, dalam Dialog budaya dalam rangka Festival Budaya Flores dan Lembata (Florata) yang berlangsung di Lapangan Pancasila Ende, pada Jumat 23/11.

Menurut dia ritual persembahan kepada leluhur atau di batu-batu merupakan bukti nenek moyang mengakui apa yang disebut wujud tertinggi. Mereka memilih cara persembahan di batu atau di kayu. Sebenarnya hal itu adalah intensi, niat serta tekad dalam hati yang mengarah dan mendekatkan mereka dengan sang Pencipta.

“Apa bedanya memasang lilin di altar persembahan dengan memberikan segumpal makanan di batu atau di pohon? Substansinya sama,” tegas dia.

Dalam seminar bertajuk “Perbedaan menuju kebersamaan” ini hadiri Nyelong I Simon, Asisten Deputi Urusan Mineral, Energi pariwisata dan Lingkungan hidup, rektor Universitas Flores, Prof. Stef Djawanay, Maria Matildis Banda dan Rm. Very Dhae, Pr. (NDO)

11 Responses to Gereja Berperan atas Lunturnya Nilai Budaya Lokal

You must be logged in to post a comment Login