Sa’o Nggua, Rumah Adat Suku Lio

Salah satu bentuk Rumah adat suku bangsa Lio di desa Lise Detu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende (10/10/12)

ENDE,FBC- Udara hari itu terasa sejuk. Sebuah bangunan tua berdiri kokoh, persis di tengah-tengah kampung. Atapnya terlihat lebih tinggi di antara rumah-rumah masyarakat yang dibangun mengitarinya. Bentuknya khas dan unik. Siapa saja yang memandangnya akan kagum dan terpesona. Itulah gambaran singkat tentang rumah adat suku Lio di Kabupaten Ende.

Oleh masyarakat setempat, bangunan tua dan klasik itu lazim disebut dengan istilah sa’o nggua. Secara sederhana, masyarakat adat suku bangsa Lio mengartikan sa’o nggua; (sa’o dalam bahasa daerah setempat berarti rumah dan nggua berarti ritus adat), sebagai tempat sentral/pusat terselenggaranya seluruh ritual/ seremoni adat sesuai ritus dan kebiasaan yang telah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat adat setempat.

Menurut keterangan bapak Yohanes Lengi (73), bapak Klemens Wangge (68) dan Yohanes Seso Renggo, tetua adat di kampung Lise Lowobora, anak kampung Lise Detu, kecamatan Wolowaru, Rabu (10/10),  umumnya struktur bangunan serta fungsi sa’o nggua (rumah adat) suku bangsa Lio memiliki kesamaan yakni berbentuk ‘rumah panggung’ tanpa beralaskan fondasi sebagaimana dengan bangunan rumah modern. Rumah ini difungsikan sebagai pusat seluruh ritual/seremoni adat.

Membangun rumah adat ini pun penuh dengan upacara. Sebelum pemotongan kayu yang hendak digunakan sebagai bahan bangunan, terlebih dahulu dilaksanakan seremoni adat khusus. Di Lise Detu dan Lowobora, misalnya, seremoni tersebut dikenal dengan istilah rera mea dengan diiringi musik tradisional nggo-lamba (gong-gendang).

Sejak seremoni sebelum pemotongan kayu hingga proses pengerjaannya, hanya mereka yang termasuk dalam jajaran/perangkat adat resmi (para  tua adat/mosalaki) yang yang boleh membangun sa’o nggua, sementara masyarakat adat biasa (faiwalu anakalo) tidak dilibatkan secara langsung dalam proses itu.

Bentuk bangunan sa’o nggua

 Sa’o nggua/rumah adat memiliki 12 tiang dengan bahannya terbuat dari kayu hutu. Terdapat satu tiang utama atau mangu yang ada di bagian tengah rumah yang langsung dihubungkan hingga ke bubungan/atap. Sedangkan 11 tiang yang lainnya berfungsi sebagai penyanggah. Bentuk atapnya terlihat unik yakni dibuat lebih tinggi (ghubu bewa) dari rumah biasa dengan bahan penutupnya dari ijuk, enau atau alang-alang.

Bentuk atap yang tinggi itu ini dihubungkan dengan kewibawaan para mosalaki yang dalam struktur adat dianggap dan dipandang lebih tinggi dari masyarakat adat biasa (faiwalu anakalo). Pandangan itu masih bertahan hingga sekarang.

Sementara dinding rumah terbuat dari papan kayu oja. Untuk alas bawah yang dipakai sebagai tempat duduk, juga terbuat dari papan kayu oja atau hutu. Tangga untuk masuk ada yang terbuat dari kayu hutu atau juga dari batu ceper bersusun yang membentuk anak tangga. Seluruh bahan bangunan yang dipakai semata-mata bersifat alami dari batu dan kayu, juga tidak dilengkapi assesoris dan modifikasi.

Di balik semuanya, terkandung unsur keindahan alami, kekhasan, keaslian, daya magis yang tinggi. Manfaatnya juga bukan dalam waktu singkat, namun dapat bertahan hingga berabad-abad lamanya serta dapat diwariskan hingga ke beberapa generasi keturunan.

Bapak Yohanes Lengi menyimpulkan bahwa keseluruhan bentuk bangunan rumah adat menyerupai bagian tubuh manusia. Tiang utama/mangu diidentikkan dengan leher, kuda-kuda sebagai penopang bubungan ibarat kedua tangan, dinding ibarat rusuk, tiang penyanggah ibarat kaki, sedangkan atap/bubungan ibarat kepala.

Tidak semua orang bisa masuk atau tinggal dalam sa’o nggua, dan juga tidak setiap saat digunakan. Yang boleh masuk dan tinggal di dalam sa’o nggua hanya tua adat/mosalaki beserta anggota keluarganya. Hak ahli waris diturukan secara turun-temurun kepada garis keturunan laki-laki (patriarkal).

Masyarakat adat Lio pada umumnya meyakini daya magis dan kesakralan dari rumah adat itu sebagai warisan leluhur yang paling bernilai. Oleh karena itu, unsur kesakralan itu terus dijaga dan dipelihara hingga sekarang terutama pada setiap ritual/seremoni adat yang diselenggarakan.

Selain sebagi pusat ritual adat, sa’o nggua (rumah adat) juga melambangkan persekutuan dan persatuan yang menghimpun seluruh masyarakat adat (faiwalu anakalo) dalam setiap ritual adat. (Guche Montero)

2 Responses to Sa’o Nggua, Rumah Adat Suku Lio

You must be logged in to post a comment Login