Quantcast

Pangan Lokal, Berharap dari Kelompok Tani

Pangan lokal. Tidak sekadar pameran yang banyak diadakan saat ini, di setiap seminar dan diskusi,  selalu yang dibicarakan adalah tentang pangan lokal. Hal yang sama terjadi juga di Flores.

Saat bicara tentang pangan lokal, walaupun hal yang  dibicarakan  sama yakni makanan dari hasil bumi penduduk setempat, namun pembicaraan bisa berkembang kemana-mana. Misalnya, pangan lokal dikaitkan dengan krisis pangan dunia,  pemberdayaan ekonomi masyarakat, persoalan gizi, persoalan petani, produk makanan organik hingga soal kearifan lokal termasuk solidaritas dan tindakan berbagi.

Terlepas dari maksuberagamnya  pembicaraan, sungguh relevan kiranya bicara tentang Flores bertolak dari masalah pangan lokal ini. Apa yang disebutkan dengan perkembangan dari wacana tentang pangan lokal sangat berhubungan dengan kebutuhan yang dirasakan masyarakat Flores saat ini.

Sebagai masyarakat yang umumnya hidup sebagai petani dan nelayan dengan sistem pertanian yang diwariskan secara turun temurun, rupanya masalah pangan lokal  bukanlah hal yang sama sekali jauh dari kehidupannya. Dengan lahan pertanian yang masih luas, selalu meninggalkan pertanyaan apakah  orang mau dan mampu bekerja untuk mefungsikan lahan itu entah pertanian ataupun berternak.

Para petani mefungsikan lahan sebagai kebun untuk ditanami padi, jagung, ubi, kacang-kacangan juga sayur-sayuran.  Saat yang sama, tanah-tanah yang masih luas, oleh petani ,  ditanami tanaman berjangka panjang seperti kelapa, kopi, kemiri dan cengkeh termasuk mente yang akhir-akhir ini sangat digemari.

Ada yang sengaja ditanam, tapi ada yang memang tumbuh sendiri. Di hutan yang belum digarap sebagai ladang, bermacam jenis ubi, termasuk pisang dan tumbuhan lain yang bisa di makan ada disana. Untuk makan sehari-hari, petani mengharapkan hasil dari kebun.  Untuk mendapat uang bisa dari menjual sebagian hasil ladang, atau diperoleh dari hasil tanaman umur panjang.

Tidak benar kalau dikatakan bahwa masyarakat  belum mempunyai pengetahuan dalam mengelola makanan. Di masyarakat petani dan nelayan, dapat dijumpai berbagai olahan makanan. Beras padi (untuk membedakan dengan beras yang dibeli), bisa dimasak dengan ubi ataupun jagung. Ubi atau jagung juga bisa diolah dalam berbagai bentuk yang bervariasi. Demikian halnnya dengan sayur-sayuran.

Kandungan gizi mungkin bisa diperdebatkan termasuk mengajukan  segala anjuran. Namun apa yang terkandung dalam makanan yang dimakan itulah gizi dan karbohidrat yang diperoleh. Sampai disini, kita bisa mempertanyakan apa masalahnya dengan kebiasan mengkonsumsi pangan lokal di Flores umumnya?

Sepertinya kebiasaan hidup dan pengetahuan masyarakat tentang pertanian dan makanan lokal, dalam suatu masa tertentu mulai diremehkan untuk tidak mengatakan ditinggalkan. Bukan mau mengatakan bahwa orang harus anti beras, tapi beras yang dibeli sudah terlanjur memberikan kemudahan. Beras yang dibeli, juga , dianggap menyamai   para pegawai negeri yang mendapat jatah beras setiap bulan.

Beras hanya lah contoh. Tapi yang mau dikatakan bahwa segala yang datang dari luar selalu dianggap yang terbaik.  Perlahan, orang mulai mengandurungi hidup dengan segala hal yang mengandung impor dan instan. Pekarangan rumah tidak lagi ditanamin sayur, kunyit, tomat, dan cabe, tapi cukup dengan membeli beras ditambah indomie.

Segala hal bisa dijual hanya untuk membeli suatu yang datang dari luar. Ketika pesta yang  menjadi  kebiasaan masyarakat, hal yang dipikirkan selalu orang lain. Makanan yang disiapkan pun harus sesuai dengan salera dan kebiasaan orang lain atau tamu undangan.

Dalam suatu masa, orang berpikir bahwa segala yang baik ada di luar sana. Maka tidak heran di balik tindakan  untuk mendapatkan hal serba gampang, selalu saja ada perasaan rendah diri untuk menampilkan diri apa adanya. Jika hanya uang yang dapat mendatangkan barang-barang dari luar, maka bertani dirasakan sebagai pekerjaan yang sia-sia. Soalnya, yang dikerjakan bukanlah memperoleh makanan, tapi memperoleh uang untuk membeli makanan. Akibatnya, profesi petani mulai ditinggalkan. Lahan-lahan produktif pun lebih mudah untuk dijual sekedar untuk mendapatkan uang.

Pertanian jambu mente dalam banyak hal mulai membuat petani meninggalkan pertanian ladang. Soalnya cuma dengan mente uang lebih cepat diperoleh dan dengan itu kebutuhan pun segera bisa ditanggulangi. Tapi sayang, praktek-praktek perdagangan dalam soal ini selalu jauh dari harapan petani, dan tetap membawa petani hidup dengan dililit berbagai utang yang tidak bisa diselesaikan dengan hanya menanam mente.

Namun, apa yang pernah ditinggalkan itu, kini muli ditata kembali. Berita-yang pernah dilansir  FBC, tentang kiprah beberapa kelompok tani, juga tentang kuliner dari pangan lokal sebenarnya membawa optimisme akan perubahan itu. Kelompok-kelompok tani di Flores kini mulai mengornisasikan diri dengan berbagai inisiatif , pendampingan termasuk penemuan-penemuan bibit unggul baru.

Dibalik usaha untuk memberi penyadaran akan pangan lokal, dengan segala permasalahan yang mengikutinya, seperti saja perhatian harus tertuju pada kelompok tani ini. Melalui kelompok tani, solidaritas dalam kearifan lokal bisa dipertahankan termasuk dari hasil yang diperoleh membawa konsekuensi pada kebanggaan dan tumbuhnya jati diri. Melalui kelompok tani, proses belajar bersama itu lebih cepat membawa hasil. Begitupun melalui kelompok tani ajakan kembali kepada pangan lokal lebih mendapatkan pijakannya.

Inipun berlaku untuk kelompok nelayan. Usaha-usaha kecil dan sederhana untuk perubahan yang lebih berarti @ben

 





You must be logged in to post a comment Login