Quantcast

FOTOGRAFI

Duapuluh Fotografer Jadi Duta Gambara Flores

BEKASI,FBC- Setelah melewati proses pemilihan ketat, 20 orang fotografer terpilih menjadi Duta Gambara Flores. Mereka menyisihkan 6344 orang peserta lain yang mengirimkan 10.007 karyanya ke sekretariat kepanitian Gambara Photo Award 2012: Flores Bangkit.

Keputusan itu muncul setelah tim kurator yang dipimpin fotografer senior Oscar Matuloh menyelesaikan seleksi tahap akhir yang mencakup 300 buah karya. Duapuluh karya foto terbaik itu akan diunggah panitia di laman http://www.gambaraphotography.com/.

Pada tahap selanjutnya, mereka akan bertugas mendokumentasit realita sosial di 20 spot pemotretan yang tersebar di seluruh pelosok Flores dan pulau-pulau sekitarnya. Foto-foto bidang kesehatan, pendidikan , sosial dan budaya dalam bingkai tema utama kegiatan yakni Cinta Bhinneka Tunggal Ika.

“Saat ini panitia penyelenggara telah bekerja menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas para Duta Gambara, terutama soal logistik di kawasan yang sulit tersebut,” ujar Trisakti Simorangkir, Program Director Gambara Photo Award 2012: Flores Bangkit, lewat siaran pers tertanggal 31/8/2012.

Kompetisi foto ini merupakan hajatan kedua yang diselenggarakan oleh Komunitas Visual Gambara dan ini hanya event dua tahunan dari Gambara. Hajatan serupa telah terselenggara di Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Dalam kesempatan kali ini, panitia akan memberikan hadiah total senilai Rp 461 juta dalam bentuk kamera dari berbagai merek terkenal. Pemenang utamanya akan menerima Leica M-9.

Salah seorang anggota tim kurator, Hardy Mendrofa, mengatakan bahwa kompetisi kali ini amat menarik. Para peserta terdiri dari fotografer baik senior/amatir/professional yang berasal dari kota-kota di Indonesia. Beberapa peserta asing tercatat ikut serta, dua diantaranya terpilih menjadi duta yakni A.M. Ahad yang berasal dari Bangladesh dan Klass Stoppels, seorang warganegara Belanda yang telah bermukim di Solo, Jawa Tengah.

Peserta dalam negeri tak hanya datang dari kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya. Beberapa Duta Gambara berasal dari Kalimantan, Sulawesi, NTB dan bahkan Papua. “Perbedaan loba foto Nias dan Flores kali ini, yang pasti jumlah foto yang terupload lebih banyak, para peserta sudah lebih berani menampilkan angle – angle baru dan pesan realita sosialnya lebih dapat,” ujar Hardy.

Kesulitan dalam proses penjurian, lanjut Hardy, secara teknis tidak ada, hanya terlalu banyak foto dan banyak angle – angle yang sama. Hal ini mengharuskan kurator bekerja keras menyatukan pendapat dalam memilih angle yang baru. Para Duta Gambara itu akan memulai pemotretan di lokasi pada 20-24 oktober 2012.Karya-karya itu akan dinilai tim kurator di Maumere. Panitia akan mengumumkan pemenangnya pada 28 Oktober 2012 dalam sebuah acara penutupan.

Agar perhatian pada realita sosial di Flores tumbuh, Gambara melakukan sejumlah rangkaian kegiatan lain di Flores seperti workshop musik tradisi, workshop teater cerita rakyat dan dialog budaya. Beberapa seniman terkemuka seperti Putu Wijaya dan dua orang musisi tradisi Jalu Pratidina dan Opie Andaresta ikut serta. Pertengahan September mendatang, komunitas ini juga akan menyelenggarakan Bakti Sosial Kesehatan Gambara-Yaspem. Bakti sosial itu akan dilakukan dengan supervisi sejumlah tenaga media yang akan bergerak dari mulai Pulau Lembata hingga Labuhan Bajo.(DON)

You must be logged in to post a comment Login