Quantcast

Berlayar dengan Feri, Pilihan Paling Tepat

Penguna jasa pelayaran Fery di pelabuhan Bolok Kupang menuju Lewoleba-Lembata dgn KMP Feri Ile Boleng

KUPANG, FBC- MASALAH transportasi khususnya transportasi laut di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur hingga kini sudah mulai berangsur baik. Bandingkan dengan sebelum tahun 1986, orang Flores – Lembata dan Alor jika ke Kupang untuk melanjutkan pendidikan, harus menggunakan kapal motor berukuran kecil dan sedang dan terus bergulat dengan ombak dan badai di laut sawu siang dan malam.

Jika cuaca dan gelombang laut sawu masih bersahabat, pelayaran dapat dilewati dengan aman. Namun jika laut sedang mengamuk, semua penumpang bersama barang-barangnya basa dihantam air laut. Pelayaran siang  hingga besok siangnya bahkan sore sepertinya tengah bergulat dengan maut. Doa-doa dilantunkan silih berganti ketika laut sawu mengamuk.

Namun, pertengahan tahun 1986, masalah tranportasi di wilayah ini berangsur membaik. Lintasan “gemuk” Kupang – Larantuka PP msalnya sudah mulai diperhatikan pemerintah dengan mengoperasikan sebuah kapal Feri berukuran besar, kapal Feri Gajah Madah.

Kehadiran Feri Gajah Madah saat itu dirasakan seperti malaikat penolong ketika masyarakat sedang dihantui rasa takut untuk berlayar. Memang ada Kapal Pelni Baruna Fajar, namun pelayanan di lintasan ini hanya sekali dalam dua pekan, sementara animo masyarakat untuk bepergian di lintasan ini begitu besar.

Fery Gajah Mada kala itu memang menjadi tumpuan harapan masyarakat di Flores khususnya bagian Timur hingga Lembata. Masyarakat dari Kabupaen Ended an Sikka di sebelah Barat Kabupaten Flotim, dan masyarakat di Lembata, Adonara dan Solor di bagian Timur pulau Flores dating ke Larantuka untuk selanjutnya berlayar menuju Kupang, ibu kota Provinsi NTT.

Para pelajar dan mahasiswa asal Flores dan Lembata mulai merasakan nyamannya berlayar dengan feri Gajah Mada. Rasa dag….dig…..dug ketika berlayar dengan Kapal Motor kecil sudah menghilang dengan hadirnya Fery Gajah Mada.

Uji coba yang dilakukan pemerintah dalam hal ini PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) mengoperasikan kapal motor penyeberangan (KMP) Feri ternyata sangat bagus dan berpotensi untuk dikembangkan. Karena itu sejak 1986, ASDP akhirnya serius memberikan pelayanan di NTT dengan mengoperaskan sejumlah armadanya berikut membangun sejumlah pelabuhan penyeberangan dengan dana APBN.

Kehadiran PT ASDP Kupang ternyata sangat membantu, dengan demikian pelayaran menggunakan armada KMP Feri ini semakin diperluas dengan home basse-nya di Pelabuhan Penyeberangan Bolok Kupang..Tercatat hingga kini sudah melayani 13 litasan antara lain Kupang – Larantuka, Kupang Lewoleba, Kupang – Ende, Kupang – Aimere, Kupang – Waingapu, Kupang. Rote, Kupang- Sabu, Kupang –Kalabahi dan  Kupang Teluk Gurita.

Pimpinan PT ASDP Cabang Kupang, Jansen Arnold yang ditemui di Pelabuhan Bolok- Kupang pekan lalu  mengakui, pelayanan kapal Feri saat ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Karena itu, saat ini  mereka terus berusaha menambah armada untuk bisa memberikan pelayanan yang baik dan nyaman kepada pengguna jasa Feri ini.

“Saat ini kita memiliki sembilan armada feri yang melayani 13 lintasan di NTT dengan home basse Kupang. Namun ada beberapa armada yang sudah tua. Kita sudah mengajukan ke pusat agar bisa mendapatkan  armada baru untuk daerah kepulauan ini. Mudah-mudahan bisa terpenuhi secepatnya,” kata Jansen.

KMP Feri Ile Boleng

Memang benar juga, sejumlah armada seperti KMP Ile Ape, KMP Ile Mandiri, KMP Balibo usianya sudah sangat tua dan tidak cukup memadai untuk melayani pelayaran jarak jauh terutama lintasan Kupang – Flores.

Bagi para pedagang buah, sayuran dan ikan, pelayaran Feri menjadi pilihan paling tepat, karena mereka boleh membawa barang dagangannya sesuai keinginan dan tidak dikenakan biaya. Para pengusaha yang mengerjakan proyek-proyek pemerintah juga selalu menggunakan jasa KMP Feri karena selain aman, juga karena ongkos yang relative murah.

Jansen mengakui, selama ini mereka sering kewalahan memenuhi permintaan masyarakat. Pengangkutan mobil baik kecil maupun besar misalnya, sering dibatasi karena penumpang selalu membeludak di setiap lintasan. Mereka selalu mengutamakan penumpang dan  barang bawahannya berikut kendaraan roda dua milik penumpang.

Jansen mengakui, dari semua lintasan yang dilayani selama ini, hanya sekitar empat lintasan yang selalu padat bahkan sering terjadi over capacity. Lintasan itu adalah lintasan Kupang – Larantuka, Kupang Lewoleba dan Kupang – Aimere dan Kupang – Kalabahi.

Ke empat lintasan ini selalu penuh, bahkan pada musim-musim tertentu pihak ASDP selalu menambah ekstra pelayaran. Musim-musim tertentu itu antara lain menjelang Hari Raya Keagamaan, terutama Paskah.

“Kalau pelayaran Kupang – Larantuka setiap pekan dilayani tiga kami yakni Minggu, Selasa dan Kamis. Tetapi kalau menjelang Hari Raya paskah, banyak orang yang mengikuti upacara Prosesi Jumat Agung di Larantuka, kami pasti selalu menambah ekstra pelayaran,” kata Jansen.

Pelayaran menjadi sangat sulit, ketika musim hujan atau wilayah ini dilanda angin kencang. Ketika musim hujan disertai angin dan badai, pelayaran feri dihentikan hingga bisa selama dua pekan lebih. Ketika penghentian sementara pelayaran itu, kerugian yang dialami masyarakat juga pihak ASDP. Masyarakat tidak bisa bepergian dan ASDP tidak mendapatkan in come seperti biasanya.

Sejumlah penumpang yang ditemui di pelabuhan Bolok – Kupang, Kamis (27/9) ketika hendak berlayar menuju Larantuka mengakui, feri menjadi pilihan yang paling baik.

“Dari pada dengan pesawat yang harga tiketnya Rp 750.000, lebih baik menggunakan feri yang ongkosnya hanya Rp 75.000. Kita keluar dari Bolok jam 16.00, sepanjang malam tidur dengan nyaman, esok pagi jam 06.00 sudah tiba Larantuka,” kata Aba Mustafa penumpang asal Adonara.

Meskipun mereka berdesak-desakan dalam kapal Feri, tetapi mereka tetap nyaman, aman untuk berlayar hingga tujuan. (Bonne Pukan)





One Response to "Berlayar dengan Feri, Pilihan Paling Tepat"

You must be logged in to post a comment Login