Quantcast

Panen Kopi Bajawa, Tahun Ini Lebih Baik dari Tahun Lalu

Lyly Aku bangga disamping kopinya yang sedang ranum

BAJAWA, FBC- Petani kopi di Ngada saat ini tengah memanen hasil panen kopi.  Unit Pengelolaan Hasil (UPH) Fa Masa telah  mengumpulkan 20 ton gelondong merah untuk selanjutnya dilakukan pengolahan pasca panen.   Harga gelondong merah pada awal musim panen mulai berikisar antara  Rp. 4.000-4.500/kg, sementara hs Rp 22 rb dan oc 27 rb.

Parapetani  di sekitar kawasan  Cagar Alam Watuata  ditemui FBC di tengah kesibukannya mengakui saat ini hasil kopi jauh lebih baik dari tahun lalu. Niko Raga (50), dari  Desa Beiwali mengaku panen pertama kali ini sudah menghasilkan sekitar 1 ton gelondong merah.  Senada dengan Niko, Yuliana Aku (35) sudah memanen sekitar 1 ton dan  angka ini akan  terus  bertambah pada pada dua atau tiga pekan mendatang.

Lain halnya dengan  Leonardus Seso (49), warga Desa Wawowae yang juga tengah menikmati hasilnya. “Tahun ini lumayan banyak.  Panen pertama  mendekati 1 ton dan sekarang saya mempekerjakan 6  orang lagi dengan upah harian Rp. 30 rb/orang  makan  dalam.  Tahun ini saya perkirakan  bisa mencapai 2 ton gelondong  merah,” ujarnya optimis.

Sementara UPH Fa Masa hingga berita ini diturunkan telah berhasil membeli kopi gelondong merah  sebanyak 20.280 kg atau sekita 20,2 ton. “Kami sudah membeli gelondong merah sebanyak 20 ton lebih dan  sekarang ini kami kewalahan  membeli karena tawaran petani terus bertambah,” ujar ketua Fa Masa, Sius Loki, Senin (2/7). Menurutnya dibandingkan tahun lalu hasil panenan kali ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu.

Tentang harga, menurut Sius, gelondong merah telah mencapai Rp 4.500/kg dari sebelumnya Rp 4.000. Harga ini diperkirakan terus merangkak naik sesuai dengan permintaan harga pasar dunia.  Jenis kopi hs (berkulit tanduk)  ditaksasikan Rp 22.500/kg sedangkan oc (kopi beras) sudah menuju ke angka Rp 27.000.

“Pasar hari ini diperkirakan sekian, tetapi fluktuasi harga belum bisa diperkirakan. Tidak tahu harga besok,” kata Sius.

Panen kopi tahun ini, seperti diakui salah satu petani dari Kelurahan Susu, Polikarpus (39) bertepatan dengan kebutuhan persiapan anak sekolah tahun ajaran baru seperti pakaian seragam, tas, sepatu, dan uang sekolah. “Untung ada kopi sehingga kami bisa tangani beberapa kebutuhan yang mendesak. Sebentar lagi anak-anak sekolah mau masuk tahun ajaran baru dan kami harus beli ini  dan itu. Kami juga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari yang lainnya, makan, minum dan lain-lain,” ujarnya.

Penjemuran kopi hs (kopi kulit tanduk) di atas terpal di Desa Beiwali.

Lain lagi ungkapan  Simon Neto (50), dari  Kelurahan Susu,  secara komoditi kopi adalah komoditi primadona. “Kopi menjadi komoditi primadona kami. Kami memang sudah mendapat pe ndampingan dari LSM tentang pengelolaan kopi dari budidaya, pemeliharaan, panen dan pascapanen. Tetapi kami masih membutuhkan pendampingan pemasaran lagi dari pemerintah agar  kami bisa mendapatkan hasil yang memuaskan,” ujarnya.

Ungkapannya ini terkait permainan harga oleh pengijon kopi yang  telah melepas uangnya kepada petani yang membutuhkan namun dengan kesepakatan harga semisal Rp 4.000/kg dan tidak menyesuaikan harga lagi yang berkembang. “Andaikan saja  kami bisa mendapat kredit lunak dan dapat kami bayar pada saat panen, mungkin bisa teratasi masalah kami,” ungkapnya . (yos) 





One Response to "Panen Kopi Bajawa, Tahun Ini Lebih Baik dari Tahun Lalu"

You must be logged in to post a comment Login