Quantcast

Kedang, Potensi Tambang Bukan Segala-galanya

Teluk Balauring serta pelabuhan lautnya

LEWOLEBA, FBC-Perjalanan ke Kedang ujung timur Kabupaten Lembata sungguh menyenangkan. Pemandangan sepanjang jalan yang menakjubkan, tak mampu mengoda mata untuk berkedip sedikitpun. Kelelahan dari perjalanan selama kurang lebih tiga jam dari Lewoleba, itu pasti ada. Namun hari yang beranjak siang dengan ramainya aktivitas penduduk lokal,  sepertinya tak juga menghentikan langkah untuk segera merangkum potret kehidupan penduduk di wilayah ini.

Kedang atau Edang sebutan itu diberikan kepada kelompok suku yang mendiami wilayah timur pulau Lembata. Suku Kedang memiliki bahasa dan adat-istiadat tersendiri di tengah lingkungan besar suku Lamaholot yang mendiami pulau Lembata. Penduduk Kedang percaya, mereka merupakan suku asli yang mendiami wilayah timur Lembata dari keturunan nenek moyang yang keluar dari gunung Uyalewun.

Orang-orang di Lamaholot banyak yang mengakui, bahasa Kedang amat susah untuk dimengerti. Namun, oleh interaksi masyarakat, beragam bahasa, dialek dan adat istiadat Lamaholot bisa dipahami dan sebagian memiliki unsur kesamaan antara Kedang dan Lamaholot.

Suku Kedang memiliki wilayah yang terbagi dalam dua kecamatan besar yaitu Kecamatan Buyasuri yang beribukota di Wairiang dan Kecamatan Omesuri beribukota di Balauring. Kedua kecamatan ini berpenduduk paling padat setelah kecamatan Nubatukan, bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Lembata. Jumlah penduduk kecamatan Buyasuri : 19.119 jiwa, dengan luas wilayah 104,26 Km2, sementara jumlah penduduk kecamatan Omesuri : 16.077 jiwa, dengan luas wilayah : 161, 91 Km2 (sumber :Lembata Dalam Angka, Tahun 2011).

Masyarakat kedua kecamatan ini,  hidup dari bertani lahan kering dan ada pula yang hidup dari melaut. Rumah Tangga Perikanan Laut, kecamatan Buyasuri :374 kepala keluarga dan kecamatan Omesuri 403 kepala keluarga (sumber:  Lembata Dalam Angka Tahun 2011).

Ke Balauring melalui jalan darat dari Lewoleba, harus melewati pantai Timur Tanjung Baja di desa Wailolong. Melalui perjalanan ini, perlahan kendaran menyusuri pantai hingga tiba di lingkaran Teluk Balauring nan indah pula. Balauring, sesungguhnya kota yang ramai dengan perdagangan lokal, setelah kota Lewoleba ibukota Kabupaten Lembata.

Keramaian Balauiring, didukung oleh lancarnya perhubungan darat dan laut.  Akses ke Alor pun sangat dekat karena sarana angkutan kapal Feri dua kali seminggu menyinggahi pelabuhan kota ini. Belum lagi perahu motor angkutan barang dari dan ke Makasar sangat sering, menambah ramainya transaksi perdagangan di daerah ini.

Setengah jam kemudian perjalanan dengan kendaraan dari Balauirng sudah mencapai Hingalamengi yang berpenduduk terpadat kedua, 1.214 jiwa setelah desa Balauring, 1784 jiwa di kecamatan Omesuri. “Desa ini memiliki akses informasi yang baik karena signal penuh. Listrik pun, 1 kali 12 jam, serta air bersih cukup memadai karena mobil tengki selalu siap melayani dari sumber mata air yang terletak sekitar 500 meter di bawah kampung”, ungkap Mangge Sarabiti, mantan anggota DPRD Kabupaten Lembata periode 1999-2004 kepada FBC di rumahnya.

Wilayah dua kecamatan ini memiliki potensi pertambangan yang terbilang tinggi. Dari Tanjung Baja, arah ke pebukitan Leragere hingga gunung Uyalewun menjadi daerah incaran kaum pemodal. Barangkali ini pula yang membuat penduduk Kedang selalu dihantui ancaman suatu saat tanah warisan leluhurnya akan tergadaikan di tangan pemodal. Apalagi, bila pemodal dan penguasa bersekutu untuk kepentingan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan mineral dan logam.

Memang tambang menjadi isu aktual di wilayah ini. Sulit bisa diterima kalau isu tambang yang berjejaring secara dunia itu, harus juga dipikirkan oleh masyarakat disini. Ditengah potensi tambang, di luar itu sebenarnya banyak potensi lain yang melimpah rua. Belum lagi  dengan kemampuan budaya yang  adaptip. Tapi lagi-lagi, semua itu  seperti saja tenggelam dari isu yang menjadikan tambang  satu-satunya potensi sumber daya alam Kedang yang mesti dikeruk dan dikelolah saat ini.

Selalu saja ada harapan dan usaha agar wilayah ini tidak dirusaki oleh  ekspolorasi dan pengerukan. Optimisme selalu datang dari masyarakat masyarakat sipil dan kaum peduli lingkungan yang tetap konsisten  menolaknya.  ”Kami siap gadai dan pertarukan nyawah sekalipun, demi mempertahankan tanah leluhur kami. Sejengkalpun tanah, tak akan pernah lepas ke tangan penguasa mana pun, meskipun dengan todongkan senjata siap menembak. Kami tidak akan gentar, karena kami sedang bertarung mempertahankan hidup dan kehidupan kami dan anak cucu”, ungkap bapak Abu Sama, tokoh adat Kedang, dalam aksi demo tolak tambang 3 (Tiga) tahun lalu.

Sebenarnya tidak mesti harus tambang. Sejauh mata memandang, Kedang memiliki begitu banyak potensi sumber daya alam yang menunggu untuk dikembangkan. Sebut saja panorama alam pegunungan dan bukit yang indah, pemandangan pantai dan laut yang mempesona; seni tari dan syair, serta budaya dan berbagai ritual adat setempat yang mengandung beragam nilai dan pesan.

Belum lagi kawasan hutan yang luas berpotensi untuk pengembangan kawasan  peternakan, pertanian dan pengembangan usaha lainnya. Demikian juga laut dengan kearifan lokal yang dipunyai penduduk, merupakan potensi sumber daya alam yang sangat menjanjikan.

Alam nan sejuk dari di lereng gunung Uyalewun,  segera menandai masa depan penduduk wilayah ini. Belum lagi uniknya kehidupan komunitas Kedang yang harmonis walau berbeda agama. Penganut agama Katolik dan Muslim yang seimbang,  moderat dan demokratis menambah kuatnya rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang sedemikian kental.

Ibarat kata yang tak lengkap mengungkapkan  realitas, pesannya pun selalu tak terwakili dalam selembar kertas. Namun dari keramahan yang spontan, selalu memudahkan berbagai pengertian yang dimaksud bagi kesejahteraan dan keharmonisan penduduk di sini.  (Lukas Narek)

Kota-Balauring





3 Responses to "Kedang, Potensi Tambang Bukan Segala-galanya"

You must be logged in to post a comment Login