Quantcast

Dialog Budaya di Ende, Nasionalisme dari Keindahan

Putu Wijaya (Kanan), P.Dr. John Dami Mukese (Tengah) dan Drs. Amatus Peta (Kiri) ketika bertindak sebagai pembicara pada kegiatan “Dialog Budaya”, Sabtu (16/06/12).

ENDE, FBC- Keindahan sebagai warna kebudayaan tidak selalu tampil dalam pertunjukan kesenian, tapi terlihat juga dari tradisi dan keseharian hidup masyarakat. Keindahan yang dimaksud itu sungguh nampak dalam setiap upacara dan kebiasaan hidup masyarakat di Flores. Dari sinilah  kemudian masyarakat dapat merajut nasionalisme dan menghidupkan multikuturalisme dalam keberagaman.

Demikian intisari Dialog Budaya yang berlangsung di Aula Mgr. Abdon Longginus, Pr, Paroki St. Josef Freinademetz, Jl. Ahmad Yani kotaEnde, Sabtu,  (16/06) lalu. Dialog Budaya yang bertajuk “Nasionalisme Dalam Aneka Budaya Daerah:  Cinta Bhineka Tunggal Ika” menampilkan pembicara   Budayawan Putu Wijaya, Rohaniwan dan Pemimpin Umum Flores Pos  Pastor Dr. John Dami Mukese, SVD,  akademisi Universitas Flores Dr. Pius Pampe, M.Hum, praktisi Pangan Lokal Ende Suster Martini CIJ, Pegiat Budaya Amatus Peta, Ketua Destination Management Organization, Edisius Mbira.

“Keindahan hati yang senantiasa bergelora mencari sesama yang hilang. Kebiasaan menjemput kaum tertinggal di dalam masyarakat kampung. Bela rasa atas si  kecil sekalipun pun termasuk mengangkat yang tertindas itu adalah sebuah keindahan. Inilah keindahan yang masih ada di Ende, tempat bersejarah bak ibu yang pernah mengandung nilai-nilai Pancasila,” kata Suster Martini CIJ.

Keindahan sebagaimana dimaksudkan Suster Martini, diakui budayawan Putu Wijaya. Menurut Putu , sebelum datang ke Flores, ia sudah mengetahui keindahan Flores yang diceritrakan maupun yang dialami dari persahabatan dengan sosiolog Ignas Kleden maupun penyair dan kritikus, almarhum Damian Toda. “Selama berkenalan dan dalam berdiskusi atau pertemuan lain sedikitnya budaya Flores tampak dalam dua pribadi tersebut,” katanya.

Dia menambahkan, saat dirinya tiba di Ende, ia  menyaksikan pagelaran musik tradisional sato,  musik gesekan sejenis kecapi dengan arakan penari orang Ende, dia semakin yakin akan keindahan yang dimiliki wilayah ini.  “Flores sangat indah. Saya sudah sering bermain teater di beberapa negara. Flores ternyata dekat dengan Bali namun seakan jauh dan terasa asing. Sudah lama budaya berkembang di sini dan sebagai bukti di sini Bung Karno telah menggali kepribadian bangsa Indonesia termasuk merenungkan persatuan nasionalisme,” ungkapnya. Putu kemudian menyebut Flores sebagai kampung intelektual.

Dr. Pius Pampe, M.Hum dalam pemaparannya lebih memberi penekanan pada pentingnya  pendidikan berwawasan keragaman kebudayaan. Menurut pengajar Unflor ini,  wawasan keragaman menjadi  isu penting mengingat  jumlah unsur budaya di Flores sekitar 720. yang juga menghadapi politik nasionalisme dan kulturalisme. “Apakah budaya nasionalisme itu menambah pada budaya daerah?” tanya dia.

Amatus Peta, menekankan budaya dalam konteks budaya lintas batas. Kepala  SMA Negeri I Ende ini, merisaukan keberlanjutan budaya Ende karena nilai kebersamaan semakin hari semakin melemah di kalangan muda-mudi. “Ada kegelisahan akan semangat kecintaan pada budaya sendiri yang kian menipis pada kaum muda. Di sisi lain muncul gejala nepe laga nepe lima (egosentris budaya). Ini menjadi tantangan,” ungkapnya.

Ketua DMO Flores Edisius Mbira mengarisbawahi budaya sebagai identitas. Oleh karena itu menurutnya bukan cuma masyarakat Ende tetapi juga orang-orang Flores  baik generasi tua maupun kuntum-kuntum nusa bunga ini sungguh bertanggung jawab untuk tetap mewariskan budaya daerah.

Sementara Pastor  Dr. John Dami Mukese, SVD, mengatakan kebudayaan Indonesia adalah kesatuan dari seribu satu bidang budaya masyarakat. Pastor John menyambut baik penyelengaraan kegiatan budaya termasuk Dialog Budaya. “Kita hadir untuk mengembangkan budaya daerah dan memberikan rasa nasionalisme pada budaya kita.” kata Pater yang banyak menulis puisi,dan  esai  ini.

Dialog Budaya yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Gambara Photo Award 2012-Floresbangkit ini menghadirkan sekitar 200 an peserta dialog terdiri dari Para guru, Mahasiswa dan siswa SMU, utusan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Mautapaga, Ikatan Seni Ende-Lio (ISEL), Sanggar Budaya Waturaka, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ende, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), staf Chef Executive Office (CEO)  Destination Management Organization (DMO) Ende,  para undangan dan partisipan. Turut hadir sebagai peserta Ketua DPRD Kabupaten Ende, Ir. Marcel Petu. (Benny Kasman)





2 Responses to "Dialog Budaya di Ende, Nasionalisme dari Keindahan"

You must be logged in to post a comment Login