Kain Tenun Songke Flores Barat

LABUAN BAJO, FBC Motif  kain berwarna hitam gelap dengan tatahan berwarna-warni merupakan kekhususan kain tenun dari Flores Barat. Pada masa lampau, penenunan kain tradisional merupakan salah satu seni rakyat yang bermutu tinggi.

Penenun Manggarai hasilkan kain dengan ragam hias

Kain songke mempunyai motif-motif kuno seperti lolocumbi berbentuk segi tiga, luni matang puni menyerupai ketupat, matang ntewer bersegi empat. Masing-masing motif mengungkapkan kehidupan komunitas manusia.

Lolocumbi melukiskan segi-segi kehidupan. Manusia hidup dalam komunitas kampung (beo bate elor), rumah tinggal (mbaru gendang-mbaru bate kaeng)  dan tanah-ladang (lingko randang-uma bate duat).

Matang puni/luni matang puni menyerupai ketupat menggambarkan hidup berjalan terus bak pohon pakis yang tetap hidup sepanjang musim. Matang ntewer bersegi empat mengandung sanjungan bagi wanita yang rajin berkarya dan mempunyai keterampilan menenun.

Motif ini juga melukiskan para perantau agar tidak lupa akan tempat kelahiran/kampung halaman. Apa daya motif kuno sudah tinggal kenangan saja. Orang-orang tak lagi terpaku pada motif-motif kuno. Mereka mengembangkan dengan variatif, seperti swastika, meander, tumpal, manusia dan binatang. 

Swastika menyerupai salib dengan silang membengkok dalam sudut siku-siku. Ornamen yang melambangkan peredaran semesta, seperti matahari, bulan dan bintang nun jauh di langit atas dan alam bumi di bawah.

Meander  adalah  ragam  rias berupa garis tepi dengan lengkungan siku-siku. Ini menyatakan  lika-liku hidup manusia bagaikan kelokan sungai sepanjang aliran air. Tumpal  ialah motif  dengan carik lukisan tiga setrip- jalur garis yang berjajar. Motif tumpal mirip corak batik.

Di beberapa daerah di Manggarai masih mempertahankan tenunan asali daerah. Penenun perempuan di desa Munting, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat masih menggunakan alat tradisional Keco (alat penggiling kapas) dan Jata (pemintal benang secara tradisional).

Kain tenun songke dari desa ini terbuat dari benang hasil pintal alat Jata dan hasil kapas dari alat giling Keco. Di kecamatan Lembor juga terkenal lipa suwi munting. Produk ini dihasilkan perempuan desa Watu Weri. Kain songke di Manggarai Barat berbeda dengan dua kabupaten.

Wilayah kabupaten Manggarai terdapat lipa cibal hasil tenun perempuan di Desa Gapong, Kecamatan Cibal dan lipa todo desa Hilihintir, Kecamatan Satar Mese. Manggarai Timur terkenal dengan lipa lamba leda di Ngendeng, desa Golo Munga, Lambaleda.

Para pengrajin tenun menghasilkan selembar songke dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pada lungsin. Perihal menenun dilakukan oleh gadis dan perempuan dewasa baik waktu silam maupun saat ini. Mereka membuat kain atau sarung dari benang atau kapas dengan pewarna.

Memang, akhir-akhir ini motif asali kain perlahan-lahan berkurang. Malahan ada corak hiasan khas yang telah hilang. Mutu kain juga kurang baik.

Penenunan dari bahan industri telah menggantikan sarana tradisional. Penenun tidak lagi menggunakan bahan dan alat-alat tradisional. Dengan demikian hasilnya akan berbeda dari bahan moderen dan tradisional.

Lembaran kain yang sudah jadi dari bahan sintetis agak renggang, berlubang-lubang kecil dan  tidak tegang. Sementara penenun yang memakai bahan dan peralatan tradisional menghasilkan lembaran kain yang  tegang dan tidak renggang.

Disamping bahan dan pembuatan, ada kecendrungan para penenun ’meniru motif ’ dari kain daerah lain. Mereka menenun kain daerah namun dengan corak dari luar. Sehingga kain daerah  yang dihasilkan menjadi bervariasi karena adopsi motif itu.

Mahalnya harga kain tenun daerah juga mempengaruhi daya beli masyarakat.  Rata-rata harga kain  Rp.500 ribu hingga Rp. 600 ribu per lembar. Dengan harga yang mahal seperti itu masyarakat kurang berminat untuk membeli kain daerah.

Ketika harga kain daerah sendiri mahal maka masyarakat akan memilih untuk membeli kain tenun dari daerah lain. Pilihan ini terjadi karena kemampuan beli masyarakat kelas menengah ke bawah hanya dapat menjangkaui harga kain yang murah ketimbang harga yang mahal. (Benny Kasman)

9 Responses to Kain Tenun Songke Flores Barat

You must be logged in to post a comment Login